Menghaluskan Kata Makian

4 Agu

Supaya tidak terus-terusan menyebut ‘bajingan’ atau ‘brengsek’, maka saya gunakan ‘dudul’, ‘kutu kupret’, dan ‘kecoa’. Terpikir untuk memakai ‘anjrit’ tapi rasanya genit. Di samping itu, ketika berdiskusi dengan seorang editor, ia mengatakan bahwa ‘anjrit’ hanya dikenal generasi tertentu dan tidak tahan lama. Akibatnya, dapat membingungkan pembaca.

10 Tanggapan to “Menghaluskan Kata Makian”

  1. Dina 6 Februari 2011 pada 10:16 #

    Nah ini dia yang aku cari. Aku sependapat kita ga perlu menerjemahkan setiap makian dalam bahasa asing secara ‘plek-plek-sek’. Tapi mau ga mau aku agak bingung juga menghadapi satu karakter yang gemar memaki-maki kayak gini:

    “Not a flaming soul to be found, my Lord. Looks to me like they ran like striped pigs. Livestock’s all gone, and there isn’t a bloody cart or wagon left, either. Half the houses are stripped to the flaming floors. I’ll wager my next month’s pay you could follow them by the bloody furniture they tossed on the side of the road when they realized it was only weighing down their flaming wagons.”

    Sementara ini aku menerjemahkannya jadi begini:

    “Tak ada satu orang celaka pun yang ditemukan, Lord. Menurutku mereka melarikan diri seperti babi yang dikuliti. Seluruh ternak sudah tidak ada lagi, dan tidak ada gerobak atau pedati sialan yang tersisa. Separuh dari rumah-rumah yang ada sudah dipereteli sampai ke lantai-lantainya. Aku berani mempertaruhkan gajiku bulan depan kau bisa mengikuti mereka dari perabot terkutuk yang mereka lemparkan di sepanjang jalan saat mereka menyadari itu hanya akan memberatkan pedati sialan mereka.”

    entah dibagaimanakan nanti oleh sang editor🙂
    ada masukan?

    • Rini Nurul Badariah 6 Februari 2011 pada 11:21 #

      Mbak Dina, selama bukunya ditujukan bukan untuk konsumsi anak-anak, kurasa tidak jadi masalah. Kadang, konteks menuntut kita menjaga sumpah-serapah itu, menurutku:)
      Jadi tidak ada yang keliru dalam pemakaian makian di terjemahan Mbak Dina ini, hanya saja aku pribadi akan mengotak-atik sedikit supaya makian tersebut lebih ‘tegas’. Seperti ini:
      “Orang-orang celaka itu tidak ditemukan satu pun, Lord. Sepertinya mereka melarikan diri seperti babi yang dikuliti. Tidak ada ternak, juga gerobak atau pedati sialan. Separuh rumah-rumah sudah dipereteli sampai ke lantai-lantainya. Aku berani mempertaruhkan gaji bulan depan, kau bisa mengikuti jejak mereka dari perabot rongsokan yang dilemparkan sepanjang jalan ketika orang-orang itu sadar bahwa pedati sialan mereka jadi berat.”
      CMIIW:)

      • Dina 6 Februari 2011 pada 12:26 #

        tuiing!! iya ya, jadi lebih enak dibaca… Bukunya bukan untuk anak-anak dan kisahnya cukup kelam jadi aku sering terpeleset ke dalam kalimat kaku #halesyan.

        Penulisnya juga cukup santun dengan memakai istilah yang ga lebih kasar dari ‘bloody’.

        Trims, ya.

      • Femmy Syahrani 6 Februari 2011 pada 12:42 #

        Dari Wheel of Time, ya Mbak?🙂 Makiannya ngga kerasa kasar soalnya Robert Jordan menciptakan makian lain :-p Flaming, blood and ashes, burn you…

        Btw, striped pig itu bukannya babi yang dicambuk? Coba cek definisi stripe di kamus.

      • Dina 6 Februari 2011 pada 13:00 #

        Ia, Femmy, dari bukunya Mas Jordan.
        Di situ kan ‘stripped pig’ jadi mestinya baboy yang dikuliti toh…

        omong2 aku suka deh sama ‘abu sompret’mu buat ‘blood and ashes’ hehehe rasanya cocok aja.. cucah ngarang2 padanan lain yg kyk gt;).

      • dinabegum 6 Februari 2011 pada 13:08 #

        eh salah liat… bener ‘striped pig’, yang di-‘stripped’ itu lantainya. Ho hooo untung aja tanya-tanya, kalo engga …. *geleng2*
        Trims ya, Femmy.

    • Dina 6 Februari 2011 pada 12:38 #

      Oia… gimana dengan kata ‘bedebah’? apa biasanya boleh dipakai? Soalnya yang dimaki adalah makhluk kegelapan yang doyan makan manusia *hiiy* jadi kalo ‘terkutuk’ aja rasanya kurang sip..

      He fingered a hoofed track. “No horse, that. Bloody Trolloc. Some flaming goat feet over there.”

      Dia meraba sebuah jejak kaki. “Yang itu bukan kuda. Trolloc terkutuk. Ada beberapa jejak kaki kambing celaka di sana.”

  2. Rini Nurul Badariah 6 Februari 2011 pada 13:48 #

    Kurasa boleh saja, Mbak. Bedebah, bangsat, bajingan, masih enak dibaca dan sesuai konteks.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kata-kata makian « Pensieve - 2 Februari 2012

    […] sering menemukan kata-kata makian yang ‘biasa’ dalam novel. Kadang-kadang dihaluskan, kadang-kadang tidak, sesuai […]

  2. Pensieve - 2 Februari 2012

    […] sering menemukan kata-kata makian yang ‘biasa’ dalam novel. Kadang-kadang dihaluskan, kadang-kadang tidak, sesuai konteks. Tapi ketika menemukan kalimat ini: “Son of a motherless […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: