Redundant

9 Agu

Dulu, sewaktu pertama kali diuji untuk menjadi penerjemah, aku tidak punya referensi apa pun selain buku-buku terjemahan yang kubaca. Aku berusaha mengingat kalimat-kalimat seperti apa yang kulihat dalam buku-buku terjemahan, agar hasil ujianku setidaknya sesuai dengan pakem penerbit. Satu hal yang ternyata digaris merah oleh editorku waktu itu: redundant.

Dengan kaku dan baku, aku masih menerjemahkan ‘a’ dan ‘the’ dalam bahasa Inggris pada setiap kalimat. Dulu aku menerjemahkan seperti ini:

I saw a little girl took a ball from a table.

Aku melihat seorang anak perempuan kecil mengambil sebuah bola dari atas sebuah meja.

He dropped it to the ground.

Dia menjatuhkannya ke atas tanah.

He’s a father of five children.

Dia seorang ayah dari lima orang anak.

Sekarang, aku menerjemahkannya (atau mengedit) kalimat-kalimat di atas dengan:

Aku melihat gadis kecil mengambil bola dari sebuah meja.
Dia menjatuhkannya ke tanah.
Dia ayah lima anak.

Seorang, sesosok, seekor, sebuah, dan lain sebagainya bisa dihilangkan jika tidak menentukan jumlah. ‘Tangan kirinya memegang apel, sementara tangan kanan menggenggam pisau’ akan lebih enak dibaca daripada ‘Tangan kirinya memegang sebuah apel, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pisau.’ Pembaca sudah tahu hanya ada satu apel dan satu pisau tanpa perlu diperjelas dengan ‘sebuah’ dan ‘sebilah’. Tentu saja, ini tergantung kalimatnya.

Pengulangan tidak perlu juga ada pada kata-kata seperti ini:
– alis mata
– menuju ke
– sebuah buah
– turun ke bawah
– naik ke atas
dan lain sebagainya.

Alis sudah pasti berpasangan dengan mata, bukan kaki. ‘Menuju’ dan ‘ke’ berarti sama, pilihlah salah satu. Kalimat ‘menuju ke atas’ bisa diubah menjadi ‘mengarah ke atas’. Jika tidak memerlukan penjelasan bahwa sesuatu adalah ‘buah’ maka ‘buah’ bisa dibuang. Sebuah apel, misalnya. Ada beberapa ‘buah’ dalam bahasa Indonesia yang perlu penjelasan, misalnya ‘buah ara’. Singkirkan kata ‘sebuah’ dari depannya. ‘Turun’ dan ‘naik’ sudah jelas arahnya, tidak perlu diperjelas lagi dengan ‘ke bawah’ dan ‘ke atas’.

Kata sambung yang berlebihan juga perlu disingkirkan. Aku pernah menemukan kalimat ‘dia adalah merupakan ibunya’. Betapa lebih enak jika ditulis ‘dia ibunya’ saja. Kata ‘adalah’, ‘oleh’, ‘dari’, ‘merupakan’ dan lain sebagainya bisa disingkirkan jika kalimat masih bisa dimengerti tanpa memerlukan kata sambung, seperti ‘dia dikepung lima pemuda kekar’. Tanpa kata sambung ‘oleh’ di tengah-tengahnya, kalimat itu valid.

Apakah aku sudah terbebas dari redundant jika menerjemahkan? Belum sepenuhnya. Itulah gunanya editor yang bisa melihat kesalahan ketika pertama kali membaca, yang mungkin terlewat oleh penerjemah🙂

3 Tanggapan to “Redundant”

  1. Laura Evelyn 9 Mei 2011 pada 11:50 #

    saya langsung senyum2 sendiri baca nya mbak… teringat diri sendiri kekekekek. thanks mbak tuisan nya😛

    • pdchusfani 10 Mei 2011 pada 09:38 #

      Sama-sama, semoga bermanfaat🙂

  2. Richard Ariefiandy 27 Agustus 2014 pada 16:58 #

    mungkin maksudnya “Apakah aku sudah terbebas dari redundant” adalah “Apakah aku sudah terbebas dari redundancy”?🙂 Terima kasih blognya, menarik sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: