I wish (1)

12 Agu

Dalam pekerjaan menerjemahkan, saya sering menemukan ungkapan I wish yang diikuti anak kalimat past tense. Ini berarti bahwa hal yang diungkapkan dalam anak kalimat tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Biasanya saya menerjemahkannya menjadi salah satu dari tiga alternatif berikut, tergantung konteksnya.

* I wish I could remember what my grandfather looked like, but I was still very young when he passed away.
* Aku ingin sekali bisa ingat wajah kakekku, tetapi aku masih kecil sewaktu dia meninggal.

* It’s raining cats and dogs, and I wish I brought my umbrella.
* Hujan turun lebat sekali, dan aku menyesal tadi tidak membawa payung.

* I wish he were here.
* Andai saja dia ada di sini.

Ada juga yang menerjemahkan frasa ini menjadi aku berharap. Tetapi, menurut saya ini kurang pas karena kata harap menyiratkan bahwa si pembicara merasa hal yang diharapkannya masih bisa tercapai, dan makna kalimatnya menjadi berbeda.  Mari kita rasakan makna kalimat-kalimat ini:

* Aku berharap aku bisa mengingat wajah kakekku.
* Aku berharap aku membawa payung.
* Aku berharap dia ada di sini.

Jika diterjemahkan balik, menjadi:

* I hope I can remember what my grandfather looked like (after seeing his photos again).
* I hope I will bring my umbrella (I will not forget to bring it).
* I hope he is here (he hasn’t gone somewhere else).

Satu Tanggapan to “I wish (1)”

Trackbacks/Pingbacks

  1. I wish (2) « Catatan Penerjemahan - 20 Januari 2011

    […] Lihat juga I wish (1). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: