Penggal-Memenggal

24 Agu

Ada yang berpendapat bahwa karya terjemahan haruslah setia secara utuh pada buku aslinya. Ini terkait pemenggalan kalimat, paragraf, frasa, dan beberapa aspek dalam proses adaptasi buku terjemahan. Sejujurnya, bukan kali pertama bagi saya melakukannya atas nama penyesuaian, kendati baru setahun terakhir berani mengajukan argumen-argumen semacam ini.

Ketika pembaca membandingkan dengan buku aslinya [baik yang sudah membaca lebih dahulu ataupun belum], timbul protes. Ada yang mendudukkan diri sebagai penulis, ada yang mempertanyakan kewenangan dan sejauh mana yang boleh ditindak, ada pula yang menimbulkan debat tak berujung karena apa yang pantas dan tidak pantas sangat relatif sifatnya.

Bila pembaca berempati kepada penulis, utamanya mereka yang merupakan penggemar penulis itu, wajar saja terjadi pembelaan. Namun sebagai penerjemah yang harus juga merangkap editor lapis pertama [karena saya ingin menjadi seperti penerjemah kampiun yang menurut para editor tidak lagi membutuhkan sentuhan korektor], saya menempatkan diri selaku pembaca. Tentu saja, pembaca yang saya wakili terlebih dahulu adalah diri sendiri, kemudian dikaitkan dengan imej dan selingkung penerbit, sehingga setiap keputusan melalui diskusi. Idealnya memang berkomunikasi dengan penulis bersangkutan, namun saya pernah mengalami ada penulis yang sangat sukar dikontak [lama sekali menjawab email sehingga yang dihubungi adalah agennya, atau penulis yang ternyata memakai nama samaran dan identitasnya kurang jelas]. Tetapi pada umumnya, mereka sepakat dengan kebijakan adaptasi sebab penerjemahan adalah penyesuaian budaya. Sama halnya dengan mengatakan bahwa tidak ada kata yang persis sama. Saya pernah membuang adegan dan mengubah kalimat yang terlalu seronok dalam buku anak-anak, sebab menggamblangkan proses kehamilan. Sempat pula menggunting paham Darwin ihwal kera adalah nenek moyang manusia dalam buku anak-anak keluaran penerbit Islam, lantaran ketidaksetujuan personal dan pihak penerbit juga.

Salah satu penyebab pemenggalan [sekaligus yang paling sering ‘digugat’] adalah alinea dan plot yang membuat pembaca jemu alias bertele-tele. Percaya atau tidak, ada penulis yang menggunakan kalimat serba panjang dan bab demi babnya penuh redundansi. Mengapa bisa lolos di luar negeri sana? Saya tidak tahu. Namun di balik rimba repetisi itu, tentulah ada sesuatu yang menarik dan dapat dipetik manfaatnya sehingga buku tetap diterbitkan serta diterjemahkan pula di sini.

Kemudian terlontarlah pertanyaan, “Kok dia bisa menulis seperti itu, ya?” Jawabannya sederhana: penulis juga manusia. Diakui atau tidak, hanya pembaca yang dapat menilai sebuah karya secara jujur. Penulis bisa saja khilaf, membeberkan detail yang tidak perlu dan tidak konsisten dalam beberapa pernyataan. Dalam sebuah novel yang saya alihbahasakan, saya pernah menemukan di satu halaman yang sama, penulis menyebut seorang karakter adalah kakak karakter utamanya tetapi di alinea lain mengatakan bahwa dia adalah ibunya.

Kembali pada plot berpanjang-lebar yang berpotensi membuat ngantuk tadi, saya menggunakan sudut pandang pribadi sebagai pembaca yang cerewet dan suka alur cepat. Apakah Anda membaca buku sangat detail sampai huruf-hurufnya? Saya ucapkan salut bila itu selalu dilakukan, sebab saya tidak jarang melompati bagian-bagian tertentu dengan banyak alasan.

Kesimpulan menyangkut pemotongan adegan, kalimat dan bahkan paragraf [saya belum pernah membuang satu bab], yang terpenting adalah jangan sampai mengganggu jalan cerita [dalam fiksi]. Diupayakan agar penghilangan itu tidak terasa, kendati keinginan pembaca untuk membandingkan dengan buku aslinya tidak dapat dihindari.

3 Tanggapan to “Penggal-Memenggal”

  1. Femmy Syahrani 26 Agustus 2010 pada 16:20 #

    Saya setuju jika pemenggalan dilakukan demi penyesuaian budaya, apalagi jika dengan persetujuan penulis. Tapi, kalau berdasarkan plot, repetisi, dan redundansi, apa tidak terlalu jauh ya? Dalam dunia penerjemahan, ada pandangan bahwa proses terjemahan harus GIGO (Garbage In, Garbage Out) karena penerjemah bertugas menyampaikan pesan milik si penulis, bukan menyuntingnya. Kalau naskah aslinya bertele-tele, terjemahannya pun harus bertele-tele, kecuali ada permintaan dari penerbit sini dan ada persetujuan dari si penulis.

  2. Rini Nurul Badariah 26 Agustus 2010 pada 17:47 #

    Kalau saya, memangkas sebanyak itu ketika mengerjakan novel klasik, Fem. Sebelumnya berdiskusi dulu dengan editor, dan yang dihilangkan relatif tidak terlalu banyak.
    Ihwal buku yang bertele-tele, saya pernah batal menerjemahkan/menyerahkan kembali pada penerbit karena merasa tidak sanggup. Saya jujur saja bahwa saya pribadi, selaku pembaca pertama, berisiko jemu dan tidak akan mampu menerjemahkan dengan baik. Syukurlah penerbit mengerti dan belakangan tidak jadi menerbitkan buku itu.

    • Femmy Syahrani 26 Agustus 2010 pada 21:09 #

      Oh, rupanya yang digarap novel klasik, dan sudah didiskusikan dengan editor. Kalau begitu, lain ceritanya🙂 Soalnya saya ingat, dalam kontrak penerjemahan, selalu ada klausul bahwa penerjemahan haruslah penerjemahan setia. Jadi, harus berhati-hati dalam menerjemahkannya kalau tidak mau melanggar kontrak. Kalau novel klasik, tentunya sudah masuk public domain ya. Kita bebas saja mau memperlakukan naskah itu seperti apa yang dianggap perlu oleh kita.

      Kalau tidak sreg menerjemahkan suatu materi, dan ada pilihan untuk menolak atau membatalkan, memang sebaiknya diurungkan saja menerjemahkan materi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: