Aktif-pasif

20 Feb

Teks Inggris:

Statilius’s limp form was let down … and finally Cethegus, who screamed and sobbed and put up such a tremendous struggle that two men had to sit on him while a third tied his wildly thrashing legs—in the end they tipped him through the hole head first and he fell with a thud.

Terjemahan pertama:

Sosok lemas Statilius diturunkan … dan akhirnya Cethegus, yang menjerit, terisak, dan meronta begitu kuat sehingga dua orang harus mendudukinya sementara orang ketiga mengikat kakinya yang menendang-nendang liar—akhirnya mereka mendorongnya ke dalam lubang itu dengan kepala lebih dulu, dan dia jatuh bergedebuk.

Setelah disunting:

Sosok lemas Statilius diturunkan … dan akhirnya Cethegus, yang menjerit, terisak, dan meronta begitu kuat sehingga harus diduduki dua orang sementara kakinya yang menendang-nendang liar diikat oleh seorang lagi—akhirnya dia didorong ke dalam lubang itu dengan kepala lebih dulu, dan dia jatuh bergedebuk.

Catatan:

  • Saya mengubah susunan kalimat ini agar subjek tidak berubah-ubah dalam kalimat panjang ini. Dalam terjemahan yang sudah disunting, begitu Cethegus disebut, subjek tidak berubah lagi, selalu merujuk pada orang ini. Menurut saya pribadi, ini meningkatkan keterpaduan (kohesi) kalimat karena fokus kalimat hanya pada satu orang, tidak berganti-ganti fokus ke beberapa orang.
  • Bahasa Indonesia lebih luwes beralih antara kalimat aktif dan pasif, tidak seperti bahasa Inggris yang lebih cenderung ke kalimat aktif. Oleh karena itu, keluwesan ini dapat dimanfaatkan dalam terjemahan saat menghadapi kalimat seperti ini.

 

3 Tanggapan to “Aktif-pasif”

  1. useeca 3 Desember 2012 pada 11:10 #

    Mbak femmy,

    Saya pernah mencoba menerjemahkan sebuah cerita anak, penggunaan panggilan untuk seorang pelayan raja yang sangat setia, “faithful John” begitu ia biasa dipanggil dalam cerita, dalam kalimat:
    “Tell faithful John to come to me”…Then answered faithful John , “i will not
    forsake him, my Lord.” dan seterusnya menggunakan “faithful John”- bukan “John” saja.
    Apa kita harus menerjemahkan menjadi “John yang setia” sampai berulang-berulang sesuai naskah aslinya?
    Karena kalau dibaca kok malah ngga enak ya? (“Katakan pada “John yang setia” agar segera datang menemuiku!”…. Kemudian “John yang setia” menjawab, “Hamba tidak akan mengabaikan putra anda, Tuanku.”)

    Kemudian dalam cerita itu juga dikisahkan putra raja mencintai seorang putri cantik yang dalam cerita ditulis “princess of Golden Dwelling” padanan yang pas untuk mengganti “princess of Golden Dwelling?” apa ya mbak? apa tetap ditulis aslinya begitu saja? padahal pembacanya adalah kalangan anak-anak.

    Tolong dikasih masukan ya mbak femmy, makasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: