Mencatat Padanan Istilah

27 Feb

Idealnya, sebelum mulai menerjemahkan, penerjemah membaca dulu keseluruhan naskah. Terutama untuk menentukan padanan yang pas bagi beberapa istilah. Pengalaman menerjemahkan genre fantasi membuatku ‘waspada’ akan beberapa istilah yang kelihatannya bisa dipadankan dengan satu kata, tapi ternyata punya makna lain. Beberapa istilah baru akan terungkap makna sebenarnya di pertengahan atau akhir buku.  Maka jika punya waktu untuk membaca seluruh naskah sebelum mulai mengerjakannya, sejak awal penerjemah sudah bisa memikirkan padanan yang pas.

Sayangnya, penerjemah sering tidak punya kesempatan untuk membaca naskah terlebih dulu, biasanya karena keterbatasan waktu, maka harus membaca sambil langsung menerjemahkan. Satu istilah yang sudah diterjemahkan menjadi A di bab-bab awal, bisa berubah menjadi B di bab-bab pertengahan, bahkan berubah lagi menjadi C di bab-bab akhir.  Hal seperti ini cukup menghabiskan waktu dan tenaga, serta pengeditan berulang kali. Belum lagi jika ada yang terlewat, akibat mata dan otak yang kepalang letih karena harus bolak-balik memeriksa sekian banyak bab.

Solusinya adalah membuat glosarium. Setiap kali menemukan istilah yang tidak umum (biasanya sering terjadi di genre fantasi atau fiksi ilmiah) penerjemah mencatatnya pada file berbeda. Maka jika beberapa istilah tertentu harus diubah kemudian, akan lebih mudah jika ada catatan yang bisa dijadikan acuan. Glosarium seperti ini akan lebih bermanfaat lagi jika penerjemah harus mengerjakan serial, yang bisa terdiri dari tiga, empat, bahkan sepuluh buku. Sering kali masing-masing buku tidak dikerjakan berurutan, bisa diselang satu dua bulan, bisa pula satu dua tahun. Tidak mungkin data sekian banyak istilah tersimpan di dalam otak. Dengan adanya glosarium, penerjemah tidak perlu membuka-buka buku-buku sebelumnya untuk mengingat padanan apa yang telah diterjemahkannya untuk istilah tertentu. Catatan ini juga menjaga penerjemah agar konsisten, tidak menerjemahkan satu istilah dengan berbagai padanan yang berbeda. Contoh saja, jika ada istilah Armoured Army, penerjemah harus konsisten dengan satu padanan, entah Pasukan Baju Besi atau Pasukan Berzirah. Istilah yang tidak konsisten akan membingungkan pembaca.

Catatan istilah seperti ini juga sangat bermanfaat jika penerjemah harus melanjutkan serial yang tadinya dikerjakan orang lain. Banyak penyebab mengapa seorang penerjemah tidak lagi mengerjakan sebuah serial. Jika buku berikutnya diserahkan kepada penerjemah lain, maka penerjemah lanjutan itu harus mengetahui padanan apa yang diberikan penerjemah terdahulu untuk beberapa istilah. Tanpa glosarium yang diberikan penerjemah pertama, penerjemah kedua terpaksa harus membuka naskah asli (untuk mencari istilah yang sama dengan yang ditemukannya di buku berikutnya), melihat di bab mana istilah itu berada, kemudian membuka lagi naskah terjemahan sebelumnya (untuk mencari padanan katanya dari penerjemah pertama). Ini cukup merepotkan bahkan jika penerjemah kedua mengerjakan buku seri kedua. Bagaimana jika penerjemah kedua baru mulai mengerjakan buku ketiga, keempat, atau kelima? Berapa banyak naskah asli dan naskah terjemahan yang harus dibongkarnya? Bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang diperlukan hanya untuk mencari satu istilah saja. Dengan tersedianya gosarium dari penerjemah pertama, penerjemah kedua bisa bekerja tanpa tersela pencarian data.

Berikutnya, glosarium juga akan memudahkan pekerjaan editor. Jika ada istilah yang harus diubah (ini hak editor sepenuhnya, entah apa pun alasannya) maka glosarium akan memudahkan editor untuk mencari dan mengganti. Editor juga akan lebih menyukai penerjemah yang rapi dan meringankan pekerjaannya. Satu buku, satu glosarium. Satu serial, satu glosarium. Bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bagi si penerjemah sendiri.

5 Tanggapan to “Mencatat Padanan Istilah”

  1. Rini Nurul Badariah 28 Februari 2011 pada 07:19 #

    Kadang-kadang untuk genre non fantasi dan bukan seri pun begitu, Mbak, terutama untuk cek konsistensi istilah dalam bab serba panjang.

  2. Femmy Syahrani 28 Februari 2011 pada 07:51 #

    Yap. Aku juga membuat glosarium untuk seri Cicero. Banyak istilah Inggris di sana kukembalikan ke istilah Latin, baik istilah pemerintahan atau nama geografis, supaya editornya ngga bingung soal perubahan istilah.🙂 Glosarium memang pasti bermanfaat.

    • Rini Nurul Badariah 28 Februari 2011 pada 08:25 #

      Hmmm..jadi nggak salah ya dalam terjemahan kemarin, istilah India tidak kuubah. Saharunpore tidak kujadikan Saharanpur, misalnya.

      • Femmy Syahrani 28 Februari 2011 pada 15:07 #

        Kalau lihat di wikipedia, sepertinya yang istilah Indianya justru Saharanpur?

  3. pdchusfani 28 Februari 2011 pada 09:31 #

    Wah, iya tuh kebayang Femmy waktu nerjemahin serial Cicero, kalo gak pake glosarium bisa mati konyol, hahaha. Soalnya aku pernah sebaaal dapet dua serial lungsuran yg gak dikasih glosarium sama penerjemah sebelumnya, dan kudu ngubek2 dua dan tiga buku sebelumnya sampe keriting! Padahal istilah di serial itu banyak banget.

    Terakhir waktu nerjemahin Demonata 4, Rin, aku pun ngubah lagi istilah kuno Irlandia ke bahasa awal karena ternyata lebih tepat begitu. Dan diubahnya udah di tengah2 buku. Coba kalo gak punya catetan, bisa keriting lagi deh nyarinya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: