not … until

1 Mar

Kalimat yang mengandung “not … until” bisa saja diterjemahkan dengan “tidak … sampai“, tetapi aku lebih suka menerjemahkannya dengan “baru … setelah“, terutama untuk kalimat seperti berikut:

  • He came up with the idea for the novel in his teens, but he did not start writing it until he was in his forties.
  • Dia mendapat ide untuk novel itu semasa remaja, tetapi tidak mulai menulis novelnya sampai ia berusia empat puluhan.
  • Dia mendapat ide untuk novel itu semasa remaja, tetapi baru mulai menulis novelnya setelah berusia empat puluhan.
  • With traffic like this, she will not arrive home until ten.
  • Kalau macet seperti ini, dia tidak akan sampai di rumah sampai pukul sepuluh.
  • Kalau macet seperti ini, dia baru sampai di rumah nanti setelah pukul sepuluh.

7 Tanggapan to “not … until”

  1. esti 1 Maret 2011 pada 09:53 #

    ini kasusnya mirip dengan instead of
    aku nggak suka kalau terlalu sering pakai alih-alih

    • Femmy Syahrani 1 Maret 2011 pada 10:10 #

      Iya, kalau keseringan, bosan juga pakai alih-alih.

      • Rini Nurul Badariah 1 Maret 2011 pada 11:38 #

        Wah, aku termasuk sering menggunakan ‘alih-alih’ tapi kebingungan juga mencari padanan lainnya. Biasanya menggunakan apa, Fem, Mbak Esti?

      • Femmy Syahrani 1 Maret 2011 pada 15:24 #

        Kadang-kadang pakai “sebagai gantinya”… Apa lagi ya? Harus dicatat nih kalau lain kali ketemu.

  2. esti 2 Maret 2011 pada 08:42 #

    Kadang pakai justru atau malah. Apalagi kalau suasananya non formal.
    Misal:
    “Disuruh ambil palu dia malah ambil pakunya.”

    “Bukannya lari, Cash justru memilih untuk menghadapinya.”

    hehehe… salah ya…. soalnya yang terbayang kalau nerjemahin itu adalah bagaimana orang ngomong, jadi EYD dan tata bahasa suka terlewat ^_^

    • Femmy Syahrani 2 Maret 2011 pada 13:37 #

      Wah, terima kasih, Mbak Esti. Ikut belajar. Nyumbang artikel juga dong, Mbak.

  3. Sistha Oktaviana Pavitrasari 15 April 2015 pada 10:37 #

    Sepakat dengan Mbak Esti, apalagi kalau konteks novel, kesannya kaku juga kalau pakai ‘alih-alih’. Akan tetapi, ‘alih-alih’ ini sangat berguna dalam konteks penerjemahan teks nonfiksi ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: