Mengenal Selingkung

8 Jan

Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Tiap penerbit memberlakukan gaya yang biasanya berlainan. Ada yang sangat taat KBBI sehingga mengikuti setiap pergantian istilahnya bila direvisi, ada juga yang hanya menerapkan sebagian.

Dalam bahasa Inggris, selingkung disebut style guide. Contohnya seperti ini.

Bagi penerjemah, mengetahui selingkung sangat penting untuk mencapai hasil yang sesuai dan berkenan mengingat kerja editor relatif lebih ringan karenanya. Bukan hanya urusan peristilahan (ada yang tetap memakai ‘nafas’, bukan ‘napas’), tetapi juga loyalitas pada naskah. Ada penerbit yang menetapkan seratus persen menjaga keutuhan buku asli, terlepas dari gaya berbelit-belit dan kalimat super majemuk, ada juga yang memberikan panduan lebih jauh untuk mencairkan kekakuan dan mempertinggi keterbacaan.

Berikut ini panduan dari sebuah penerbit yang saya kutip sebagian:

  • Terjemahan harus dirasakan sebagai tulisan asli sehingga sebaiknya menggunakan struktur kalimat bahasa Indonesia.
  • Mencari padanan yang paling sesuai dengan bahasa sasaran.
  • Memenggal kalimat yang terlalu panjang agar tidak bertele-tele, asalkan tidak mengganggu atau menjadikannya rancu.
  • Menyederhanakan kalimat agar tidak terlalu kaku.
  • Menguraikan suatu kata, frasa, atau kalimat yang membingungkan, atau kurang familier dalam bahasa Indonesia, dalam kalimat panjang.

Beberapa poin panduannya sama dengan penerbit lain yang bekerja sama dengan saya, maka otomatis memudahkan saya juga untuk memoles terjemahan sebelum menyerahkan kepada penyunting.

Penerapan selingkung penerbit satu dengan lainnya berbeda-beda dan tidak semua penerbit menaati Ejaan yang Disempurnakan [atau tepatnya patuh pada Kamus Besar Bahasa Indonesia] seratus persen. Hal ini dikarenakan bahasa adalah sesuatu yang ‘cair’, sehingga bahkan perubahan dan ketentuan dalam KBBI tidak senantiasa disetujui oleh semua pihak. Di sisi lain, panduan selingkung bukan materi hafalan melainkan rujukan yang perlu ditengok terus-menerus. Dengan demikian, seorang penerjemah atau penyunting lepas harus giat membaca buku-buku yang diterbitkan mitranya guna memudahkan penyerapan selingkung dalam pekerjaan masing-masing.

Salah satu contoh sederhana adalah pemakaian kata ‘napas’. Ini benar menurut KBBI terbaru, namun ada penerbit yang tetap menggunakan ‘nafas’ dengan alasan tertentu. Kata ‘shalat’ pun cukup beragam. Ada yang memilih ‘sholat’, ada juga yang menggunakan ‘salat’. Penerbit tertentu memakai kata ‘Al-Qur’an’ namun penerbit lain menetapkan ‘Al Quran’.

Selingkung bukan hanya menyangkut ejaan, namun diksi secara luas. Kadang-kadang penerbit lebih menyukai ‘para lelaki’ daripada ‘lelaki-lelaki’, misalnya. Bahkan, apabila ‘lelaki’ mengacu kepada kaum Adam keseluruhan [contohnya pada kalimat ‘Men are all the same’] penerbit acap kali mengartikan ‘Lelaki’ dan bukan ‘Kaum Lelaki’.

Gejala bahasa yang relatif semarak dewasa ini adalah penyerapan kosakata asing. Peran media massa termasuk besar dalam sosialisasinya, secara langsung maupun tidak. Akan tetapi di lingkungan penerbitan, ada pihak-pihak [baca: penerbit] yang memprioritaskan penggunaan bahasa Indonesia sebagai mayoritas dalam buku-bukunya. Ini menuntut kerja ekstra, yang bermuatan mencerdaskan dan menantang tentunya, bagi penerjemah dan penyunting mengingat tidak semua kata asing memiliki padanan. Contohnya sebagai berikut:

Tugas memanggil sehingga ia dan mitranya harus segera berangkat.

Yang dipakai adalah ‘mitra’, bukan ‘partner’

 

Aidan hanya dapat berharap segera meninggalkan tempat itu dan berfokus menemukan orang yang mematahkan leher anak berumur 6 tahun seperti ranting kering.

Padanan kata berfokus adalah berkonsentrasi. Sebenarnya ini pun masih merupakan serapan asing. Alternatif lainnya adalah mencurahkan perhatian.

Kendati ketentuan ini memicu kreativitas berbahasa penerjemah dan penyunting, mengindonesiakan peristilahan tidak senantiasa dapat dilakukan. Sebut saja pada buku-buku remaja. Tanpa bermaksud merendahkan kemampuan berbahasa generasi muda kita, ‘suasana’ dalam buku yang lincah dan renyah dapat dijaga dengan membiarkan sejumlah kosakata sesuai tempat asalnya. Terlebih apabila cerita berlatar kehidupan kota besar dan serba modern. Mari kita tengok contoh berikut.

Woy… orang-orang! Pada ke mana teman-temanku di Ohio saat kubutuhkan? Di sana sudah masuk waktu makan malam, mestinya ada dong yang bisa chat denganku.

 

Kebanyakan penerbit menerapkan bentuk dan struktur kalimat persis buku aslinya. Selain untuk menjaga rasa orisinalnya, tindakan ini bertujuan mempertahankan gaya pengarang. Maka tidak mengherankan bila kita kerap mendapati kalimat-kalimat di bawah ini.

Diterkam dingin, giginya bergemeletuk dan kaki-tangannya sukar digerakkan.

Aku ingin pergi ke sana dan makan roti dan berjemur di panas matahari dan berlari-lari di padang rumput dan tidak memikirkan apa pun yang menyebalkan.

Ia hendak lari — tetapi pandangan wanita itu membekukan; yang bisa dilakukan hanya diam, diam, lalu mencari kata-kata yang tepat.

Beberapa penerbit memandang struktur yang tidak biasa menjadikan kesulitan bagi pembaca, terlebih jika tema buku relatif berat. Oleh sebab itu, disusunlah aturan selingkung yang menyangkut pemenggalan kalimat berikut penyesuaiannya dengan gaya bahasa yang lebih berterima bagi masyarakat Indonesia. Perubahannya menghasilkan kalimat-kalimat ini:

Akibat diterkam dingin, giginya bergemeletuk dan kaki-tangannya sukar digerakkan.

Aku ingin pergi ke sana lalu makan roti, berjemur di panas matahari, berlari-lari di padang rumput, dan tidak memikirkan apa pun yang menyebalkan.

Ia hendak lari tetapi pandangan wanita itu membekukan. Yang bisa dilakukan hanya diam, diam, lalu mencari kata-kata yang tepat.

2 Tanggapan to “Mengenal Selingkung”

  1. Ambhita Dhyaningrum 8 Januari 2013 pada 09:46 #

    Reblogged this on Ambhita Dhyaningrum and commented:
    Catatan penting buat penerjemah dan editor freelance.

  2. kompasupdate 7 April 2015 pada 17:09 #

    Makasih ilmunya🙂
    Saya berharap tiap penerbit punya buku selingkung sehingga memudahkan editor lepas dan penerjemah lepas paham detail gaya si penerbit.
    Sayangnya saya baru punya buku semacam itu yang dibuat oleh Grasindo …
    Salam… Anang YB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: