Lost in Translation

20 Jan

Mbak Nita Candra pernah menanyakan arti paling pas untuk lost in translation. Ternyata ini memang perlu dijelaskan karena ada yang menduga maksudnya adalah salah menerjemahkan/salah menafsirkan kata. Berikut temuan dari Yahoo! Answers:

Its when they translate something and the original meaning can not be perfectly translated word for into the other language. So they have to rephrase or say what they mean in a different way.

Semoga benar jika saya mengistilahkannya distorsi atau pergeseran. Merujuk pada sebuah buku yang pernah saya baca, kalau tidak salah Dari Katabelece Sampai Kakus, tidak ada kata yang benar-benar bersinonim. Dengan sendirinya, tidak ada kata yang benar-benar dapat dipadankan secara utuh. Setiap bahasa memiliki ‘sifat bawaan’ masing-masing. Masih dari buku tersebut, saya menyitir pernyataan Handrawan Nadesul,

“Buat menampung istilah medis, bahasa Indonesia masih tergolong kurus, amatiran, dan sedikit dungu. Belum lagi untuk tugas-tugas yang lebih protokoler, seperti memerikan dengan jernih sebulat keluhan yang pasien rasa dan keluhkan.
Bahasa Indonesia terlalu papa buat mengungkapkan secara persis ragam rasa nyeri, sakit kepala, mulas perut, atau sakit pinggang. Padahal, ragam dan kaliberasi rasa nyeri, rasa kebas, rasa mulas, rasa tidak enak badan, yang ingin dengan bulat pasien ungkapkan, begitu tipis perbedaan maupun nuansa cita rasanya.” [hal. 196]

Itu baru dalam lingkungan bahasa daerah Indonesia sendiri, yang sedemikian kaya dan beranekaragamnya. Dalam penerjemahan, risiko hilangnya rasa dan nuansa kata-kata atau frasa tertentu kadang tak bisa dielakkan. Bukan hanya terbatas kata, bahkan gaya pengarang walaupun berdasarkan kesepakatan tertentu (tertulis maupun tidak) harus dijaga seutuh mungkin.

Sebagai contoh, pengarang yang menggunakan karakter-karakter tanpa nama. Hanya he dan she. Mengingat bahasa Indonesia tidak mengenal gender, pembaca akan bingung apabila diterjemahkan bulat-bulat ‘dia’.

Inilah yang dia tulis untuknya, Malam ini awan menghiasi langit. Seberkas sinar mentari mengilatkan dan menorehkan kemilau setiap tepi yang bergelombang, seolah-olah langit adalah sulaman jaring-jaring emas. Dia berhenti sejenak untuk menyeka mata yang pedih dan tak henti berair. Mungkin kalimat yang dituliskannya terlalu mendetail, tapi tak masalah karena dia adalah kritikus yang lembut hati.

Andaikata ‘dia’ ini merujuk satu orang pun, pengulangan tidak dapat dibiarkan. Maka perlu diubah seperti ini:

Inilah yang dia tulis untuk wanita itu, Malam ini awan menghiasi langit. Seberkas sinar mentari mengilatkan dan menorehkan kemilau setiap tepi yang bergelombang, seolah-olah langit adalah sulaman jaring-jaring emas. Si pemuda berhenti sejenak untuk menyeka mata yang pedih dan tak henti berair. Mungkin kalimat yang dituliskannya terlalu mendetail, tapi tak masalah karena sang kekasih adalah kritikus yang lembut hati.

Familier dengan ungkapan been there, done that? Padanannya berkisar (sesuai konteks) “Sama, dong.” atau “Aku dulu juga begitu, kok.” atau “Kita senasib.”

Kata lain yang, menurut saya, sukar dicari padanan pasnya adalah passion. Dalam konteks romansa dan keintiman, bisa saja diartikan gairah. Namun dalam teks yang membahas karier, misalnya, semangat atau rasa cinta terasa jauh bergeser.

Contoh lainnya ialah pengarang yang gemar berpanjang-panjang, katakanlah satu alinea hanya terisi satu kalimat.

Maafkan tulisanku yang buruk, mengingat pasukan yang terus bergerak tidak memiliki tempat yang tenang untuk merenung dan menulis surat, kuharap penulis mudaku tersayang memperoleh waktu di sela-sela semua karyanya yang banyak dan indah untuk memanfaatkan sarang mungilku dan tikus-tikusnya yang ramah tidak marah akibat keadaan sarang mereka berubah, tetap saja, duduk di bawah kerindangan pohon besar ini saat orang-orang memasak dan bergurau menghadirkan segumpal kedamaian, aku menulis di atas meja lipat yang diberikan olehmu dan gadis-gadis dengan begitu penuh perhatian.

Barangkali pengarang memiliki maksud tertentu namun kita tidak bisa membiarkan pembaca tersengal-sengal membaca kemudian tidak mau melanjutkannya lagi.

Dialek adalah aspek yang tergolong kasus lost in translation. Semisal ketika saya menerjemahkan Pollyanna.

“Go on with yer jokin’,” scoffed unbelieving Tom. “Why don’t ye tell me
the sun is a-goin’ ter set in the east ter-morrer?”

Saya tetap mengalihbahasakan tanpa dialek (Indonesia) apa pun, sbb:

“Bercanda ya,” dengus Tom tak percaya. “Kenapa tidak sekalian bilang matahari akan terbenam di timur besok?”

Kembali pada persoalan kata, banyak peristilahan dibiarkan apa adanya kendati menanggung risiko dinilai keminggris dan kurang lebur oleh pembaca. Antara lain dengan hal yang paling dihindarkan, yakni catatan kaki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: