Archive by Author

“All about us”

21 Jul

Tergantung konteks kalimat, “all about” tidak selalu berarti “tentang”.

 

“…the women goose-gabbling all about us and fussing with our hair.”

Terjemahan awal: “…para wanita mengoceh tentang kami dan mengurusi rambut kami.”

Terjemahan final: “…para wanita ribut mengoceh di sekitar kami dan mengurusi rambut kami.”

Iklan

‘Always’ yang tidak perlu ‘selalu’ (1)

10 Mei

Kalimat asli:

It’s always a good thing to have friends.

Terjemahan awal:

Memiliki teman selalu baik.

Final:

Tidak pernah ada ruginya memiliki teman.

atau

Punya teman tidak pernah ada ruginya.

Mencatat Padanan Istilah

27 Feb

Idealnya, sebelum mulai menerjemahkan, penerjemah membaca dulu keseluruhan naskah. Terutama untuk menentukan padanan yang pas bagi beberapa istilah. Pengalaman menerjemahkan genre fantasi membuatku ‘waspada’ akan beberapa istilah yang kelihatannya bisa dipadankan dengan satu kata, tapi ternyata punya makna lain. Beberapa istilah baru akan terungkap makna sebenarnya di pertengahan atau akhir buku.  Maka jika punya waktu untuk membaca seluruh naskah sebelum mulai mengerjakannya, sejak awal penerjemah sudah bisa memikirkan padanan yang pas.

Sayangnya, penerjemah sering tidak punya kesempatan untuk membaca naskah terlebih dulu, biasanya karena keterbatasan waktu, maka harus membaca sambil langsung menerjemahkan. Satu istilah yang sudah diterjemahkan menjadi A di bab-bab awal, bisa berubah menjadi B di bab-bab pertengahan, bahkan berubah lagi menjadi C di bab-bab akhir.  Hal seperti ini cukup menghabiskan waktu dan tenaga, serta pengeditan berulang kali. Belum lagi jika ada yang terlewat, akibat mata dan otak yang kepalang letih karena harus bolak-balik memeriksa sekian banyak bab.

Solusinya adalah membuat glosarium. Setiap kali menemukan istilah yang tidak umum (biasanya sering terjadi di genre fantasi atau fiksi ilmiah) penerjemah mencatatnya pada file berbeda. Maka jika beberapa istilah tertentu harus diubah kemudian, akan lebih mudah jika ada catatan yang bisa dijadikan acuan. Glosarium seperti ini akan lebih bermanfaat lagi jika penerjemah harus mengerjakan serial, yang bisa terdiri dari tiga, empat, bahkan sepuluh buku. Sering kali masing-masing buku tidak dikerjakan berurutan, bisa diselang satu dua bulan, bisa pula satu dua tahun. Tidak mungkin data sekian banyak istilah tersimpan di dalam otak. Dengan adanya glosarium, penerjemah tidak perlu membuka-buka buku-buku sebelumnya untuk mengingat padanan apa yang telah diterjemahkannya untuk istilah tertentu. Catatan ini juga menjaga penerjemah agar konsisten, tidak menerjemahkan satu istilah dengan berbagai padanan yang berbeda. Contoh saja, jika ada istilah Armoured Army, penerjemah harus konsisten dengan satu padanan, entah Pasukan Baju Besi atau Pasukan Berzirah. Istilah yang tidak konsisten akan membingungkan pembaca.

Catatan istilah seperti ini juga sangat bermanfaat jika penerjemah harus melanjutkan serial yang tadinya dikerjakan orang lain. Banyak penyebab mengapa seorang penerjemah tidak lagi mengerjakan sebuah serial. Jika buku berikutnya diserahkan kepada penerjemah lain, maka penerjemah lanjutan itu harus mengetahui padanan apa yang diberikan penerjemah terdahulu untuk beberapa istilah. Tanpa glosarium yang diberikan penerjemah pertama, penerjemah kedua terpaksa harus membuka naskah asli (untuk mencari istilah yang sama dengan yang ditemukannya di buku berikutnya), melihat di bab mana istilah itu berada, kemudian membuka lagi naskah terjemahan sebelumnya (untuk mencari padanan katanya dari penerjemah pertama). Ini cukup merepotkan bahkan jika penerjemah kedua mengerjakan buku seri kedua. Bagaimana jika penerjemah kedua baru mulai mengerjakan buku ketiga, keempat, atau kelima? Berapa banyak naskah asli dan naskah terjemahan yang harus dibongkarnya? Bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang diperlukan hanya untuk mencari satu istilah saja. Dengan tersedianya gosarium dari penerjemah pertama, penerjemah kedua bisa bekerja tanpa tersela pencarian data.

Berikutnya, glosarium juga akan memudahkan pekerjaan editor. Jika ada istilah yang harus diubah (ini hak editor sepenuhnya, entah apa pun alasannya) maka glosarium akan memudahkan editor untuk mencari dan mengganti. Editor juga akan lebih menyukai penerjemah yang rapi dan meringankan pekerjaannya. Satu buku, satu glosarium. Satu serial, satu glosarium. Bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bagi si penerjemah sendiri.

Redundant

9 Agu

Dulu, sewaktu pertama kali diuji untuk menjadi penerjemah, aku tidak punya referensi apa pun selain buku-buku terjemahan yang kubaca. Aku berusaha mengingat kalimat-kalimat seperti apa yang kulihat dalam buku-buku terjemahan, agar hasil ujianku setidaknya sesuai dengan pakem penerbit. Satu hal yang ternyata digaris merah oleh editorku waktu itu: redundant.

Dengan kaku dan baku, aku masih menerjemahkan ‘a’ dan ‘the’ dalam bahasa Inggris pada setiap kalimat. Dulu aku menerjemahkan seperti ini:

I saw a little girl took a ball from a table.

Aku melihat seorang anak perempuan kecil mengambil sebuah bola dari atas sebuah meja.

He dropped it to the ground.

Dia menjatuhkannya ke atas tanah.

He’s a father of five children.

Dia seorang ayah dari lima orang anak.

Sekarang, aku menerjemahkannya (atau mengedit) kalimat-kalimat di atas dengan:

Aku melihat gadis kecil mengambil bola dari sebuah meja.
Dia menjatuhkannya ke tanah.
Dia ayah lima anak.

Seorang, sesosok, seekor, sebuah, dan lain sebagainya bisa dihilangkan jika tidak menentukan jumlah. ‘Tangan kirinya memegang apel, sementara tangan kanan menggenggam pisau’ akan lebih enak dibaca daripada ‘Tangan kirinya memegang sebuah apel, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pisau.’ Pembaca sudah tahu hanya ada satu apel dan satu pisau tanpa perlu diperjelas dengan ‘sebuah’ dan ‘sebilah’. Tentu saja, ini tergantung kalimatnya.

Pengulangan tidak perlu juga ada pada kata-kata seperti ini:
– alis mata
– menuju ke
– sebuah buah
– turun ke bawah
– naik ke atas
dan lain sebagainya.

Alis sudah pasti berpasangan dengan mata, bukan kaki. ‘Menuju’ dan ‘ke’ berarti sama, pilihlah salah satu. Kalimat ‘menuju ke atas’ bisa diubah menjadi ‘mengarah ke atas’. Jika tidak memerlukan penjelasan bahwa sesuatu adalah ‘buah’ maka ‘buah’ bisa dibuang. Sebuah apel, misalnya. Ada beberapa ‘buah’ dalam bahasa Indonesia yang perlu penjelasan, misalnya ‘buah ara’. Singkirkan kata ‘sebuah’ dari depannya. ‘Turun’ dan ‘naik’ sudah jelas arahnya, tidak perlu diperjelas lagi dengan ‘ke bawah’ dan ‘ke atas’.

Kata sambung yang berlebihan juga perlu disingkirkan. Aku pernah menemukan kalimat ‘dia adalah merupakan ibunya’. Betapa lebih enak jika ditulis ‘dia ibunya’ saja. Kata ‘adalah’, ‘oleh’, ‘dari’, ‘merupakan’ dan lain sebagainya bisa disingkirkan jika kalimat masih bisa dimengerti tanpa memerlukan kata sambung, seperti ‘dia dikepung lima pemuda kekar’. Tanpa kata sambung ‘oleh’ di tengah-tengahnya, kalimat itu valid.

Apakah aku sudah terbebas dari redundant jika menerjemahkan? Belum sepenuhnya. Itulah gunanya editor yang bisa melihat kesalahan ketika pertama kali membaca, yang mungkin terlewat oleh penerjemah 🙂

Konversi

9 Agu

Saat menerjemahkan, mau tidak mau aku akan bertemu dengan istilah ukuran yang perlu diubah sesuai dengan kebiasaan Indonesia. Dalam ukuran Amerika kita biasa bertemu dengan mile, feet, inch, pound dan sebagainya. Dalam ukuran Inggris kita bisa bertemu dengan yang lebih tidak familier seperti stone, yard, cup dan lain-lain.

Sebagian besar ponsel sudah memiliki program konversi, tapi jika tidak, ada online conversion cukup lengkap pada situs ini:

http://www.onlineconversion.com/

Sekarang, bagaimana menentukan mana yang perlu diubah dan mana yang tidak? Dan sejauh apa?

Untuk buku anak-anak dan beberapa narasi yang memerlukan bayangan pembaca tentang jarak, berat, dan sebagainya, aku biasa mengonversinya ke istilah yang lebih Indonesia. Misalnya, mile menjadi kilometer, feet menjadi meter, pound menjadi kilogram, dan lain-lain. Begitu pula dengan ukuran suhu, yang biasanya memakai Fahrenheit, perlu diubah menjadi Celcius agar pembaca bisa membayangkan seperti apa suhu yang sedang dibicarakan. Tidak mungkin aku membiarkan dialog ini tanpa dikonversi:

“It’s a hundred degrees out there!”

Bisa-bisa pembaca menyangka cuaca di luar sama dengan titik didih air dalam Celcius (yang pastinya tidak mungkin bisa ditinggali manusia).

Mengubah ukurannya sendiri sangat mudah, tinggal meng-klik mouse, dan terpampanglah ukuran yang kita inginkan. Tapi sejauh apa aku mengonversinya? Aku pernah membaca buku terjemahan dengan kalimat kira-kira sebagai berikut:

“Jarak ke sana sejauh 32,187 kilometer.”

Huh?

Pernahkah kita menjawab pertanyaan, “Butuh berapa meter tali?” dengan “Satu koma delapan tiga meter”? Bisa-bisa kita disuruh mengukurnya sendiri dengan penggaris atau meteran.

20 mil akan kukonversi menjadi 30 kilometer. 32 kilometer pun rasanya tidak lazim diucapkan seseorang yang mengira-ngira jarak (kecuali terdapat papan tanda yang menunjukkan sebuah lokasi persis 32 kilometer ke depan).  Tidak lupa kutambahkan dengan kata “kira-kira”, kecuali kalau disebutkan persis 20 mil, bisalah kuganti menjadi 32 kilometer.

6 kaki akan kuganti menjadi 2 meter, kecuali jika memang ada penjelasan bahwa sesuatu sedang diukur dan hasilnya persis 6 kaki, maka 1,8 meter bisa digunakan. Begitu pula dengan ukuran suhu. Tapi untuk tinggi badan, tentunya lebih baik diubah dengan tepat. Tidak aneh jika kita mengucapkan, “Dia jangkung, tingginya 179 senti!”

Tapi pengecualian dalam kasus ukuran mile, ada beberapa yang sebenarnya tidak terlalu perlu dikonversi. Cukup menggunakan mil, maka pembaca sudah bisa membayangkan. Ini jika ukuran mil tidak terlalu berpengaruh pada cerita dan pada bayangan pembaca tentang situasi yang dinarasikan. “Jaraknya seratus mil!” pastinya sudah terbayang betapa jauhnya tanpa perlu mengubahnya menjadi “Jaraknya seratus enam puluh kilometer!”

Pembaca tidak akan mau dipusingkan dengan ukuran sampai desimal terkecil. Membayangkannya pun bakal sulit. Maka aku selalu membulatkan angka ke bawah atau ke atas, tergantung sampai sejauh apa desimal yang tertera. Apalagi untuk dialog, ukuran yang dibulatkan akan tampak lebih luwes daripada membaca seorang tokoh mengucapkan “32,187 kilometer”. Aku tidak menerjemahkan buku fisika atau matematika, bukan?

Crazy Acronyms

9 Agu

Satu lagi tantangan bagi penerjemah fiksi: akronim. Terjemahan sebisa mungkin menjadi akronim juga, dan kadang-kadang singkatannya pun memiliki arti. Mungkin tidak terlalu masalah jika aku hanya bertemu satu atau dua akronim yang berdiri sendiri. Seperti misalnya istilah AdviSeer yang kuterjemahkan menjadi Penasiramal. Atau ada judul bab berupa permainan kata “In FES Station” di mana FES-nya adalah Fee Every Stop, yang kuterjemahkan menjadi Stasiun Pusat (Pungutan Setiap Lewat). Tapi bagaimana jika akronim-akronim yang kutemukan itu bersambungan dan mirip satu sama lain?

Seperti ini:

POPS (Prompt, On Time, Punctual Service) menjadi Lecet: Layanan Tepat, Cepat dan Tangkas

PUPS (Patient, Understanding, Pleasant Service) menjadi Lemas: Layanan Pengertian, Menyenangkan dan Sabar

PIPS (Positive, Inspirational, Peaceful Service) menjadi Lampir: Layanan Damai, Positif dan Inspiratif

PIPS (Pleased, Inspired, Pleasantly-surprised Service) menjadi Lapuk: Layanan Asik, Penuh kejutan dan Unik

PEPS (Put-out, Exasperated, Pissed-off Service) menjadi Lakban: Layanan Kesal, Sebal dan Enggan.

Crazy Password Poem

9 Agu

Di buku Erec Rex #1: Mata Naga terdapat puisi yang berisi kalimat sandi. Erec dan sahabatnya, Bethany, harus mencari kalimat sandi ini agar bisa menang dalam kompetisi Pencarian Laut. Erec dan Bethany berhasil menguraikan sandi setelah tersadar bahwa di setiap baris puisi terdapat satu kata yang berasal dari laut. Huruf depan masing-masing kata tersebut, jika disatukan, bakal menunjukkan kalimat sandinya.

Saat menerjemahkannya, rambutku yang memang sudah keriting menjadi semakin keriting gimbal, karena seringnya dijambak-jambak. Aku harus mencari satu kata yang berhubungan dengan laut untuk setiap baris puisi, terjemahan puisi tersebut harus terdiri dari 16 baris seperti aslinya, dan harus berakhiran berima. Dan tentu saja, terjemahan kalimat sandinya tidak boleh melenceng dari aslinya!

Ini kusebut sebagai cantik tapi tidak setia, tapi kalimat sandi tetap harus setia dengan aslinya:

I tide my shoes, it fits me well,
So I’ll reef the expensive thing on,
Because I stubbed my undertow,
But now all my sand dollars are gone.

It’s cold troutside and you’re hungry, dear,
But, beach your life we’ll have fun.
Before your kindness ebbs away,
Share my warm fire and current bun.

Only your friend, not your anemone, will say:
Your underwater’s showing under your pants.
I sea you wear ruffly blue ones,
Like the Emperor Penguin of France.

We wave hello, and then goodbye,
Ice see you are almost done.
Gaze up to the twinkling, starfish sky,
Or eels you won’t notice—you’ve won!

Sudah ketemu kalimat sandinya? Benar: “trust because wise”. Bagaimana menerjemahkannya?

Jauh dari tepi pantai,
Banyak ekor berkelebat,
Rumput laut melambai-lambai,
Cumi-cumi berenang lewat.

Di balik anemon berwarna terang,
Si yellow goldfish mengintip,
Menghindari arus kencang,
Yang tak bisa dilawan sirip.

Ebi enak untuk disantap,
Tapi belut alot sekali.
Bersihkan dengan air anyap,
Jika bokongmu tertusuk bulu babi.

Anjing laut bertepuk tangan,
Disambut dansa si rajungan.
Kau menari bersama ikan,
Fosfor berpendar sambut kemenangan.

Kalimat sandinya menjadi “percaya sebab arif”…dan aku geletak selama seminggu setelah berhasil memenangkan pertarungan dengan puisi gila ini…