Arsip | Artikel RSS feed for this section

Langkah Menerjemahkan Daftar Isi yang Acak

10 Jan

Hampir semua buku nonfiksi yang saya terjemahkan dilengkapi daftar isi. Seperti buku fiksi, menata daftar isi relatif tidak repot karena tinggal menyamakan dengan judul setiap bab. Namun karena menyangkut ketelitian, tentu saja langkah ini memakan waktu padahal biasanya dilakukan paling akhir dan tenaga sudah tinggal sisa-sisa. Efektifnya, judul masing-masing bab diterjemahkan lebih dulu kemudian dimasukkan ke daftar isi setelah disunting.

Bagaimana kalau daftar isinya banyak dan tidak berurutan? Beberapa kali saya menghadapi buku nonfiksi yang terdiri atas sejumlah tulisan singkat seperti yang satu ini. Daftar isinya menjadi puluhan judul, bahkan ratusan, dan dikelompokkan sesuai topik. Karena berupa subjudul, konten daftar isi ini lebih panjang-panjang ketimbang buku pada umumnya. Baca lebih lanjut

Lost in Translation

20 Jan

Mbak Nita Candra pernah menanyakan arti paling pas untuk lost in translation. Ternyata ini memang perlu dijelaskan karena ada yang menduga maksudnya adalah salah menerjemahkan/salah menafsirkan kata. Berikut temuan dari Yahoo! Answers:

Its when they translate something and the original meaning can not be perfectly translated word for into the other language. So they have to rephrase or say what they mean in a different way. Baca lebih lanjut

Mengenal Selingkung

8 Jan

Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Tiap penerbit memberlakukan gaya yang biasanya berlainan. Ada yang sangat taat KBBI sehingga mengikuti setiap pergantian istilahnya bila direvisi, ada juga yang hanya menerapkan sebagian.

Dalam bahasa Inggris, selingkung disebut style guide. Contohnya seperti ini.

Bagi penerjemah, mengetahui selingkung sangat penting untuk mencapai hasil yang sesuai dan berkenan mengingat kerja editor relatif lebih ringan karenanya. Bukan hanya urusan peristilahan (ada yang tetap memakai ‘nafas’, bukan ‘napas’), tetapi juga loyalitas pada naskah. Ada penerbit yang menetapkan seratus persen menjaga keutuhan buku asli, terlepas dari gaya berbelit-belit dan kalimat super majemuk, ada juga yang memberikan panduan lebih jauh untuk mencairkan kekakuan dan mempertinggi keterbacaan.

Berikut ini panduan dari sebuah penerbit yang saya kutip sebagian: Baca lebih lanjut

Referensi Peristilahan Fantasi

3 Nov

Editrice. Tradutrice. Et cetera.

Mythological Dictionary

Bukan hanya nama-nama sosok mitologi yang bisa ditemukan di web yang ringan aksesnya karena hanya berisi teks ini. Saya menemukan echo, yang ternyata nama nymph.

Encyclopedia Mythica

Membahas mitologi di enam wilayah geografis, serta legenda dan cerita rakyat.

Mythology Guide

Kumpulan informasi mengenai mitologi Yunani dan Romawi.

Dictionary of Classical Mythology

Web yang ditujukan sebagai pendamping referensi mitologi Yunani dan Romawi, beserta tabel nama tentu saja.

Mythical and Fantasy Creatures

Ada makhluk yang besar, kecil, mirip burung, mirip tanaman, ular, ular laut, dan macam-macam naga.

List of fantasy creatures

Terbukti dari daftarnya bahwa fantasi di Asia pun kaya, antara lain di Malaysia.

Mythical Creatures A-Z

Ogre, pegasus, phoenix….sebut saja:D

Fairy Tale Glossary

Dongeng dan fantasi bertetangga dekat.

Russian Fairy Tales

Istilah-istilah yang dihimpun oleh Linda J. Ivanits, mencakup antara lain dewa pagan Rusia.

Fairy Tale and Folk Tale Cyber Dictionary

Beberapa dongeng belum dikenal luas, misalnya…

Lihat pos aslinya 94 kata lagi

Daftar Tiruan Bunyi/Onomatope

3 Nov

Editrice. Tradutrice. Et cetera.

Ketika sedang menerjemahkan, saya sering kesulitan membayangkan, melukiskan, atau menjabarkan tiruan bunyi, atau yang dikenal sebagai onomatope. Berikut daftar yang mudah-mudahan dapat membantu.

Suara makhluk hidup

Kucing mengeong

Burung mencericip/berkicau

Babi menguik

Bebek meleter

Anjing menggonggong/mendengking

Serigala melolong

Sapi melenguh

Katak menguak

Ular mendesis

Kambing mengembik

Merpati berdekut

Ayam jantan berkokok

Ayam betina berkotek

Anak ayam menciap

Macan mengaum

Tikus mencicit

Kuda meringkik

Tidur mendengkur

Berjalan terhuyung-huyung.

Suara benda mati

Meriam berdentam

Angin berkesiur/mendesau

Papan/kayu berderak

Bel/lonceng berdentang

Sendok berdenting

Air bergemericik

Pintu berderit

Gigi gelemetuk (kedinginan)

Telepon berdering

Peluru berdesing

Daun bergemeresik

Jantung berdegup

Uang logam bergemerincing

Petir menggelegar

Kuda berderap.

Darah berdesir/menggelenyar.

Selendang berkibar.

Berdasarkan aktivitas

Minum: gluk, gluk, gluk

Menginjak kayu/ranting: krak, krak, krak

Jatuh ke dalam air: Byur, jebur, plung (jika yang jatuh adalah benda)

Menggunting: kres, kres, kres

Meninju: Buk, dhuak

Menyobek kertas: srek, srek

Meledak: bum!

Jatuh dengan keras: gedebuk! Gedebum!

Barang pecah: Prang!

Lihat pos aslinya 462 kata lagi

Kutipan-kutipan Tentang Penerjemahan dan Penyuntingan

25 Jul

Dari Translation in Practice:

Copyeditors have to look out for unacceptable or controversial usage. 

Most translators have not worked in a publishing house, and are unaware of the pressures involved

To treat a translated book in this way is to treat it more as a museum piece than as a vibrant literary work

The new work, the translated work, is already an interpretation of the original, and unavoidably so

Every book is different and presents its own problems.

There is no doubt that there are ‘bad’ translations, but these are not always the sole responsibility of the translator. Many are the result of crossed wires between editor and translator, or inadequate communication at the outset.

All translators know the importance of “fresh eyes” on the translation

… because ultimately word choices are subjective.

The process of translation can be a lonely and often frustrating job, and even the best translators can struggle to find exactly the right words, or to get across an idea/a theme.

Even the best translator may not be appropriate for every book that comes along.

A translation should have the same virtues as the original, and inspire the same response in its readers.

If readers will baulk at “croque monsieur”, it’s easy to add an unobtrusive description (for example, ‘the cheese oozed over the salty ham of his croque monsieur sandwich’) to enlighten them. There is no reason, either, why general explanations cannot be offered from time to time; for example, adding ‘three miles out of the city’ after a town that someone local to the region would know instinctively, adding a paragraph describing the ingredients of a particularly native culinary dish, or even giving background to a cultural practice or event by giving a character more dialogue. Sometimes it’s best to be vague, e.g., substituting ‘a fragrant spice mix’ for “Ras al-hanut” (Moroccan).

The translator walks a tightrope between author, editor, publisher and reader. Where should our primary loyalty lie? Sometimes, if you’re loyal to the author, the editor feels the text is inaccessible to the reader. But if you adapt to the limitations of the putative reader, you may feel you are being disloyal to the author.
The publisher is mindful of commercial considerations and wants to ensure the book will sell, which may affect their editorial stance. It is in this tension that the translation dilemma resides, and there is no simple answer. Articulating this tension and discussing it in these terms is a step towards resolving the ethical question it raises.

 

The translator is not a ferryman for the meaning of the words but the author of their web of new relations. – Mahmoud Darwish

Just as the translator needs to empathize with the text, so does the editor. – Ros Schwartz

Not every pun in the original is translatable – Robert Chandler

Humour, of course, tends to be what gets lost most easily in translation. – Robert Chandler

What I love most about this work is the challenge, but challenge requires energy, and energy diminishes over time. – Lisa Carter

Tautan Referensi Penerjemahan Buku/Sastra

25 Jul

Di bawah ini adalah kumpulan artikel dan web temuan saya mengenai penerjemahan buku/sastra. Semoga bermanfaat.

Tips to Better Literary Translation

Did Charlotte Mandell do a good job of translating Les Bienveillantes (The Kindly Ones) by Jonathan L…

Try it Yourself: How Should We Translate The Bacchae?

The Literary Translator and the Concept of Fidelity

A Snapshot of Literary Translation and its Practitioners

Is every bilingual a translator?

The Art of Poetry and its Translation

The Difference between Editing and Proofreading a Translation

Interview with Latin American Translator, Suzanne Jill Levine

Translation of popular fiction

Interview: Translator Miroslaw Lipinski on Stefan Grabinski

Journey to translated fiction

Translators Are Editors

Literary Translation as a Hobby

Life as a Literary Translator

Mencatat Padanan Istilah

27 Feb

Idealnya, sebelum mulai menerjemahkan, penerjemah membaca dulu keseluruhan naskah. Terutama untuk menentukan padanan yang pas bagi beberapa istilah. Pengalaman menerjemahkan genre fantasi membuatku ‘waspada’ akan beberapa istilah yang kelihatannya bisa dipadankan dengan satu kata, tapi ternyata punya makna lain. Beberapa istilah baru akan terungkap makna sebenarnya di pertengahan atau akhir buku.  Maka jika punya waktu untuk membaca seluruh naskah sebelum mulai mengerjakannya, sejak awal penerjemah sudah bisa memikirkan padanan yang pas.

Sayangnya, penerjemah sering tidak punya kesempatan untuk membaca naskah terlebih dulu, biasanya karena keterbatasan waktu, maka harus membaca sambil langsung menerjemahkan. Satu istilah yang sudah diterjemahkan menjadi A di bab-bab awal, bisa berubah menjadi B di bab-bab pertengahan, bahkan berubah lagi menjadi C di bab-bab akhir.  Hal seperti ini cukup menghabiskan waktu dan tenaga, serta pengeditan berulang kali. Belum lagi jika ada yang terlewat, akibat mata dan otak yang kepalang letih karena harus bolak-balik memeriksa sekian banyak bab.

Solusinya adalah membuat glosarium. Setiap kali menemukan istilah yang tidak umum (biasanya sering terjadi di genre fantasi atau fiksi ilmiah) penerjemah mencatatnya pada file berbeda. Maka jika beberapa istilah tertentu harus diubah kemudian, akan lebih mudah jika ada catatan yang bisa dijadikan acuan. Glosarium seperti ini akan lebih bermanfaat lagi jika penerjemah harus mengerjakan serial, yang bisa terdiri dari tiga, empat, bahkan sepuluh buku. Sering kali masing-masing buku tidak dikerjakan berurutan, bisa diselang satu dua bulan, bisa pula satu dua tahun. Tidak mungkin data sekian banyak istilah tersimpan di dalam otak. Dengan adanya glosarium, penerjemah tidak perlu membuka-buka buku-buku sebelumnya untuk mengingat padanan apa yang telah diterjemahkannya untuk istilah tertentu. Catatan ini juga menjaga penerjemah agar konsisten, tidak menerjemahkan satu istilah dengan berbagai padanan yang berbeda. Contoh saja, jika ada istilah Armoured Army, penerjemah harus konsisten dengan satu padanan, entah Pasukan Baju Besi atau Pasukan Berzirah. Istilah yang tidak konsisten akan membingungkan pembaca.

Catatan istilah seperti ini juga sangat bermanfaat jika penerjemah harus melanjutkan serial yang tadinya dikerjakan orang lain. Banyak penyebab mengapa seorang penerjemah tidak lagi mengerjakan sebuah serial. Jika buku berikutnya diserahkan kepada penerjemah lain, maka penerjemah lanjutan itu harus mengetahui padanan apa yang diberikan penerjemah terdahulu untuk beberapa istilah. Tanpa glosarium yang diberikan penerjemah pertama, penerjemah kedua terpaksa harus membuka naskah asli (untuk mencari istilah yang sama dengan yang ditemukannya di buku berikutnya), melihat di bab mana istilah itu berada, kemudian membuka lagi naskah terjemahan sebelumnya (untuk mencari padanan katanya dari penerjemah pertama). Ini cukup merepotkan bahkan jika penerjemah kedua mengerjakan buku seri kedua. Bagaimana jika penerjemah kedua baru mulai mengerjakan buku ketiga, keempat, atau kelima? Berapa banyak naskah asli dan naskah terjemahan yang harus dibongkarnya? Bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang diperlukan hanya untuk mencari satu istilah saja. Dengan tersedianya gosarium dari penerjemah pertama, penerjemah kedua bisa bekerja tanpa tersela pencarian data.

Berikutnya, glosarium juga akan memudahkan pekerjaan editor. Jika ada istilah yang harus diubah (ini hak editor sepenuhnya, entah apa pun alasannya) maka glosarium akan memudahkan editor untuk mencari dan mengganti. Editor juga akan lebih menyukai penerjemah yang rapi dan meringankan pekerjaannya. Satu buku, satu glosarium. Satu serial, satu glosarium. Bukan hanya bermanfaat bagi orang lain, tapi juga bagi si penerjemah sendiri.

Berapakah Honor Penerjemah Buku?

17 Nov

Jawabannya sederhana: relatif. Tiap penerbit memberlakukan standar berlainan. Ada juga yang memberi keleluasaan negosiasi, biasanya ini diperuntukkan penerjemah yang dianggap jaminan mutu atau sudah kampiun di bidangnya. Meski relatif tidak banyak, masih ada penerbit yang menetapkan honor per halaman. Umumnya, margin dan layout halaman tersebut pun ditentukan dalam Surat Perjanjian Kerja (SPK) bersama pasal-pasal lain yang memuat tenggat dan sebagainya. Contohnya, Rp 12.000,00 per sekian karakter atau per halaman A 4 yang terdiri dari sekian baris. Sependek pengetahuan saya, tarif ini bermula dari angka Rp 10.000,00. Bagaimana dengan honor per karakter? Ada penerbit yang terang-terangan menyatakan bahwa standar kompensasi mereka adalah 8,5-17 rupiah per karakter tanpa spasi. Ada yang mulai dari 7-8 rupiah, kemudian berangsur-angsur naik sesuai perkembangan kompetensi penerjemah yang terasah seiring dengan waktu. Di samping itu, deadline dan tingkat kesulitan (termasuk bahasa asing non Inggris) turut berpengaruh pada negosiasi honor. Yang sudah santer tersiar adalah kabar tentang penerbitan di kawasan tertentu. Mereka menetapkan standar yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa kota lain, termasuk yang berdekatan, sehingga dengan sendirinya pihak penerbitan di sana berpikir-pikir untuk menggunakan jasa penerjemah di kota lain. Namun ternyata tidak semuanya demikian. Meski tidak banyak, ada penerbitan tertentu (dengan genre buku yang spesifik pula) menerapkan tarif relatif lebih tinggi untuk penerjemah baru ketimbang penerbit besar yang memberlakukan sistem ‘percobaan’ yang akan meningkat seiring perkembangan kompetensi penerjemah bersangkutan. Semoga tulisan singkat ini membantu. Mohon tidak membandingkan dengan ketetapan standar Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), sebab bila itu diterapkan, bisa dibayangkan alangkah mahal harga buku di pasaran nantinya.

SPK itu apa?

Kepanjangan SPK ini berlainan. Ada penerbit yang menyebutnya Surat Perintah Kerja, di tempat lain Surat Perjanjian Kerja. Ada juga yang menggunakan istilah Surat Perjanjian Penerjemahan.

Tidak semua penerbit memberikan dokumen kesepakatan tertulis seperti ini, yang sebenarnya bisa dipandang dari kacamata positif. Pertama, mereka percaya penuh kepada freelancer-nya yang bahkan belum pernah bertemu muka sekalipun, seperti pengalaman saya dengan sebuah penerbit besar yang hanya berkomunikasi lewat email. Itu pun pendek-pendek saja. Kedua, memudahkan secara prosedural, sebab menunggu surat dikirim ke rumah, membaca pasal demi pasal, menandatangani di atas materai dan mengirimkan kembali bagaimanapun membutuhkan waktu.

Ada SPK yang ringkas, hanya satu halaman, ada yang detail. Contoh SPK yang ringkas, tercantum poin-poin berikut:

  1. Nomor surat
  2. Tanggal
  3. Order dari: *nama penerbit*
  4. Penanggung jawab
  5. Nama freelancer
  6. Judul buku
  7. Jenis order (penerjemahan, penyuntingan, layout, atau proofread )
  8. Judul buku
  9. Biaya
  10. Ketentuan (spasi, jenis huruf, margin)
  11. Ada juga yang mencantumkan kualitas penyelesaian: well edited
  12. Deadline
  13. Cara pembayaran dan nomor rekening
  14. Tanda tangan

Berikut contoh isi SPK yang rinci/panjang, menyerupai kontrak resmi yang mungkin familier bila Anda pernah menulis buku. Beberapa pasalnya antara lain:

Tugas dan tanggung jawab

Di sini tercantum, di antaranya, bahwa hasil terjemahan sudah diketik dan diedit rapi.

Honor dan cara pembayaran

Menyangkut nilai kompensasi, pajak, dan waktu pembayaran

Jangka waktu penyerahan

Deadline dan denda (kalau ada)

Salah satu pasal menyebutkan, meski kebanyakan penerjemah sudah tahu, bahwa penerjemah tidak memegang hak cipta hasil terjemahan buku tersebut dan tidak memperoleh royalti karenanya. Ada pula penerbit yang menegaskan dalam pasal SPK-nya bahwa hasil terjemahan tidak boleh diserahkan kepada pihak lain dan tidak boleh disubkontrakkan.

Suatu waktu, saya pernah memperoleh SPK yang mengandung pasal ini:

Jika setelah melalui proses perbaikan, naskah tersebut belum memenuhi taraf mutu yang diharapkan, maka Pemilik Naskah berhak untuk tidak memakai hasil terjemahan tersebut dan Penerjemah tidak berhak menerima pembayaran yang telah disepakati.

Kebijakan mengenai penyerahan SPK ini berbeda-beda. Ada yang sedari awal memberikan dalam bentuk softcopy, ada yang hardcopy dulu dan harus dikembalikan melalui pos/kurir pula, namun ada juga yang mengirimkan hardcopy namun saya boleh mengembalikan yang bertanda tangan via email. Dengan begitu, bila SPK-nya rinci sekali, saya tinggal menandatangani halaman terakhir dan mengirimkan hasil scan-nya.

Bentuknya kira-kira seperti itu.

Perlu diketahui beberapa poin seputar prosedur pembayaran honor:

  1. Tidak semua penerbit menggunakan SPK. Namun ada yang memberikan SPK dan BAP, harus kita tandatangani biasanya di pertengahan proyek. Sedapat mungkin usahakan agar BAP diperoleh/dikirimkan kembali menjelang pekerjaan rampung supaya pembayaran tidak terlalu lama. Ada penerbit yang menetapkan transfer pada hari tertentu sekitar dua minggu setelah BAP diterima, asumsi saya oleh bagian keuangan.
  2. Beberapa penerbit menjadwalkan pembayaran tiap hari tertentu, sekali seminggu. Misalnya tiap Selasa, artinya paling lambat pekerjaan disetorkan Senin pagi dengan asumsi editor tidak sedang cuti dan langsung mengecek e-mail. Karena kemungkinan tersebut, di samping biasanya Senin adalah jadwal rapat rutin redaksi, alangkah baiknya disetorkan Jumat sore/siang supaya Selasa dapat cair.
  3. Rata-rata penerbit memberlakukan pembayaran dua minggu setelah pekerjaan diterima. Katakanlah jadwal mingguannya Selasa, kita serahkan tepat hari Selasa sore, maka cairnya dua kali Selasa lagi.
  4. Ada juga penerbit yang membayar pada hari yang sama atau selang dua-tiga hari saja.
  5. Penerbit lain mensyaratkan invoice, artinya kita menghitung sendiri jumlah karakter/halaman hasil terjemahan kemudian dicocokkan oleh pihak penerbit sebelum pembayaran.

Catatan penting: selalu konfirmasikan penerimaan SPK yang sudah ditandatangani kepada editor, agar pembayaran tepat waktu. Bila kita terlambat mengirimkan kembali berkas itu, terlambat pula pengajuannya ke bagian keuangan.

Memperoleh Job Terjemahan Tanpa Melamar

17 Nov

Pertanyaan yang paling sering dilayangkan kepada saya adalah, “Bagaimana caranya agar saya ditawari oleh penerbit tanpa perlu melamar atau ikut tes?” Ini wajar apabila penerjemah bersangkutan sudah pernah menghasilkan karya walaupun relatif belum banyak, atau sedikit gelisah karena buku yang dikerjakan belum juga terbit (namun kasus seperti ini sudah jarang terjadi). Toh, sejujurnya, saya merasa bingung dan tidak punya jawaban yang pas. Maka saya akan mencoba menerangkan sesuai pengalaman saja.

Walaupun penerjemah buku tidak sebanyak penulis, harus diakui bahwa keberadaan kita tidak semencorong penulis. Pasalnya, nama penerjemah dicantumkan di bagian dalam dan kadang sangat kecil. Bahkan saya pernah berbincang dengan seorang editor, bahwa seorang penulis kenamaan dari Belgia (dengan karya yang amat legendaris pula) memberlakukan syarat agar nama penerjemah dan editor edisi terjemahannya tidak dipampang di halaman dalam sekalipun. Jadi harus bagaimana?

Saran saya, aktiflah di jejaring sosial untuk perbukuan seperti Goodreads, Shelfari, Library Thing, dan lain-lain. Bukan dengan iktikad promosi belaka, namun di sana akan menambah wawasan kita mengenai buku dan adanya penerbit yang terus bertambah atau berekspansi genre. Susun rak karya yang rapi, dan bila sempat, bertandang ke akun para pembaca. Bukan tidak mungkin, di jejaring komunitas buku yang besar dan hidup ini, kita bertemu klien baru setelah diskusi panjang lebar mengenai suatu tren (misalnya).

Jika memiliki blog/akun Facebook/Twitter, hendaknya penerjemah menceritakan proses kreatif penggarapan sebuah karya, utamanya yang baru terbit. Tantangan/kesulitan yang kita alami, contoh-contoh kalimat yang menarik, akan memesona peminat buku dan menjadi kesempatan berbagi ilmu.  Sempatkan juga berkunjung ke blog sesama penerjemah atau terlibat pembahasan buku terjemahan.

Menurut beberapa orang di forum pemasaran dunia maya, pamor blog sudah turun karena ramainya jejaring sosial. Namun saya tidak sependapat. Faktanya, tidak semua penerjemah lepas senang aktif di jesos atau bahkan membuka akun di sana. Baru-baru ini, seorang rekan penerjemah yang jarang muncul di dunia maya menarik perhatian penerbit karena postingan blognya.

Sangat tidak dianjurkan: meminta penerjemah lain (terutama yang baru saja kita kenal) merekomendasikan kepada relasinya. Begitu pula langsung ‘menyodorkan diri’ kepada penerbit di kali pertama ‘bertemu’. Apabila karya kita memang terbukti sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan, kita tidak perlu bersusah payah untuk itu.

Pekerjaan adalah masalah rezeki, dan datangnya acap kali tidak diduga-duga. Contohnya, saya melamar dan ikut tes di sebuah penerbitan untuk posisi penyunting freelance, kemudian justru ditawari menerjemahkan. Tetapi memperoleh order tanpa melampaui tes bisa dikatakan sulit, dalam arti jarang sekali. Saya pribadi sampai hari ini masih menempuh tes, yang ada kalanya direspons cukup lama sampai penerbit memperoleh genre buku yang dinilai cocok untuk kapasitas saya.

Singkat kata, mari bekerja sebaik-baiknya. Banyak membaca, banyak belajar, supaya kemampuan meningkat dan klien dengan sendirinya ‘terjerat’.