Arsip | Artikel RSS feed for this section

Menerjemahkan Buku Seri

30 Agu

Dari beberapa kesempatan yang saya dapatkan untuk mengerjakan buku seri anak-anak [baik fiksi maupun non fiksi], pelajaran pertama amat jelas: jangan kira menulis untuk anak itu mudah. Sepanjang penggarapan, saya tak henti-henti bertanya kepada teman dan saudara yang memiliki anak, atau mengamati keponakan yang usianya sama dengan kelompok yang disasar buku tersebut, apakah dia sudah mengerti kosakata tertentu. Masih terngiang ucapan pemilik majalah anak tempat saya berkontribusi naskah 7 tahun silam, bahwa anak kecil [maksudnya kelas 1-2 SD] belum paham antara lain soal jenjang S2. Sudah barang tentu, komunikasi yang sering dan diskusi dengan editor menjadi menu wajib.

Guna mempertajam naluri akan jenis pekerjaan ini, saya mau tidak mau harus membaca banyak buku anak-anak, baik yang lokal maupun terjemahan [syukur-syukur dapat yang impor, meskipun second]. Kebanyakan buku anak tidak terlampau tebal, namun memandang remeh tugas menerjemahkannya berdasarkan aspek tersebut sangat tidak bijaksana. Bila formatnya pictorial book, perlu diupayakan agar kalimat tidak terlalu panjang dan menabrak layout serta ilustrasi – misalnya yang berupa kotak-kotak dan lingkaran.

Apabila saya pernah menangani penerjemahan buku perdana dalam suatu seri, tentu sangat menyenangkan bila saya dipercayai mengerjakan buku-buku selanjutnya. Namun sependek pengetahuan saya, jarak terbit dan keputusan memproduksi sekuelnya adalah hak prerogatif penerbit, selain menilik potensi pasar [baca: memerhatikan respon pembaca atas buku pertamanya]. Belum lagi persoalan jadwal yang ada kalanya berbenturan.

Perkara memandang remeh yang sangat perlu dihindari tadi berlaku pula pada buku untuk dewasa, sekalipun bergenre komik. Dari suatu pengalaman beberapa waktu lalu, saya mengambil pelajaran bahwa gaya penulis belum tentu seragam kendati buku dalam satu seri yang sama ditulis oleh satu orang. Tema amat menentukan kesukarannya. Di satu buku, saya memerlukan waktu lebih lama untuk berpikir karena banyaknya kalimat yang harus dipadankan dengan konteks humor ala Indonesia, sedangkan di buku lain relatif lebih ringan.

Seperti yang pernah dikemukakan Mbak Poppy di salah satu postingan beliau, saya sempat dapat order menerjemahkan kelanjutan seri buku anak-anak yang awalnya ditangani penerjemah lain sehingga membuahkan pengalaman tersendiri. Aspek ringannya masih cukup terasa, karena penulisnya sama dan saya tinggal menyeragamkan penerjemahan beberapa istilah. Alhamdulillah, buku-buku sebelumnya mudah diperoleh di toko dekat rumah:)

Nursery Rhymes, Inspirasi Banyak Karya Fiksi

24 Agu

Sewaktu bermain-main di situ, saya menemukan beberapa nursery rhyme yang mengingatkan pada sejumlah karya yang pernah dan akan dibaca:)

Mary, Mary, Quite Contrary

Mistress Mary, Quite contrary,
How does your garden grow?
With Silver Bells, And Cockle Shells,
Sing cuckolds all in a row.
Penggalannya pernah saya dapati di novel The Secret Garden, sewaktu Mary menginap di rumah pendeta dan anak-anaknya tidak menyukainya.

Dalam versi Indonesianya yang diterbitkan GPU, sang penerjemah mengartikan begini:

“Mistress Mary yang galak,

Apakah tamanmu tumbuh subur?

Dengan bunga silver bell dan cockle shell,

Dan marigold yang berbaris rapi.” [hal. 13]

Kemungkinan baris akhirnya mengalami sedikit variasi. Terjemahan versi Qanita adalah sebagai berikut:

“Nona Mary si pembangkang,
Kebunmu apa kabar?
Ada bunga lonceng ada bunga mawar,
Kembang sepatu semuanya berjajar.” [hal. 23]

Beberapa karya James Patterson memiliki judul yang terilhami nursery rhymes pula, misalnya Pop! Goes the Weasel dan Roses are Red.

Half a pound of tuppenny rice,
Half a pound of treacle.
That’s the way the money goes,
Pop! goes the weasel.

Nursery rhyme ini pun dicuplik oleh Sidney Sheldon dalam novel Tell Me Your Dreams, ketika salah satu alter ego tengah mengenang masa kanak-kanaknya. Variasinya sebagai berikut:

All around the mulberry bush,
The monkey chased the weasel,
The monkey thought ’twas all in fun,
Pop! goes the weasel.

Mengelilingi semak beri,
Si monyet mengejar si musang,
Si monyet pikir cuma main-main,
Pop! muncul si musang.” (hal. 27)

Roses are red,
Violets are blue,
Sugar is sweet;
And so are you
.

Victor Hugo menggunakannya pula dalam karya fenomenal Les Misérables, petikannya sebagai berikut:

Les bleuets sont bleus, les roses sont roses,
Les bleuets sont bleus, j’aime mes amours
.

Frère Jacques, Nina Bobo Ala Prancis

24 Agu

Sumbernya di sana.

Frère Jacques, frère Jacques,
Dormez-vous? Dormez-vous?
Sonnez les matines! Sonnez les matines!
Ding, dang, dong. Ding, dang, dong.

Terjemahan Inggrisnya begini [entah mengapa Jacques juga diubah menjadi James atau Peter]

Are you sleeping? Are you sleeping?
Brother John, brother John?
Morning bells are ringing! Morning bells are ringing!
Ding, dang, dong. Ding, dang, dong.

Ternyata di sana, variasinya lebih banyak lagi. Semisal untuk ucapan ulang tahun:

Happy Birthday, Happy Birthday,
Whoop-tee-doo, Whoop-tee-doo,
May your day be pleasant, Open up your present,
Just for you, Just for you.

Kemudian untuk belajar mengenal hari:

There are seven, there are seven,
Days in the week, days in the week.
Sunday-Monday-Tuesday, Wednesday-Thursday-Friday,
Saturday. That’s the week.

Bahkan untuk menghafal dinasti di Cina:

Shang, Zhou, Qin, Han; Shang, Zhou, Qin, Han;
Sui, Tang, Song; Sui, Tang, Song;
Yuan, Ming, Qing, Republic; Yuan, Ming, Qing, Republic;
Mao Zedong; Mao Zedong;

Dominique de Villepin membuat versi lain.

Cher Jacques, cher Jacques,
Dormez vous, dormez vous?
Sauvez le Parti, sauvez le Parti,
Dingue, dingue, donc, Dingue, dingue, donc.

The Necessity of Influence: A Conversation with Damion Searls (Part II, Translation)

2 Mei

Omivoracious menayangkan artikel wawancara dengan Damion Searls, seorang penulis-penerjemah. Artikel pertama tentang sisi kepenulisannya, artikel kedua tentang sisi kepenerjemahannya.

“In general I think poets understand better than prose writers (and editors and readers of prose) that it’s much more important to be a good writer in the language you translate into than fluent in the source language. It’s easy to work with native speakers and consult about difficult words or sentences; it’s hard to write a good sentence, and you can’t get much help with that. What matters is whether the result, the book in English, is as powerful as the original.”