Arsip | Tata bahasa RSS feed for this section

was what I had always wanted

18 Okt

Kalimat asli
When I was five years old my parents all of a sudden
produced a baby boy, which my mother said was
what I had always wanted.

Terjemahan

Sewaktu usiaku lima tahun, mendadak orangtuaku mempunyai bayi lelaki, yang dikatakan ibuku bahwa bayi itu sudah lama kutunggu-tunggu kedatangannya.

Menerjemahkan kalimat bertingkat begini memang rumit. Salah satu triknya adalah memperjelas kata ganti/keterangan yang berpotensi membingungkan. What I had always wanted = a baby boy produced when I was five years old

Maka saya sunting seperti ini:

Sewaktu usiaku lima tahun, mendadak orangtuaku mempunyai bayi lelaki, yang menurut Ibu sudah lama kuinginkan.

Iklan

by-product

17 Okt

It is almost certainly a by-product of the fact that I
have never really worked from anything remotely resembling the
conventional perception of an office.

Setelah membaca makna by-product menurut TFD dan menyesuaikannya dengan konteks, saya terjemahkan begini:

Itulah akibat tidak pernahnya aku bekerja di tempat eksklusif yang menyerupai konsep kantor konvensional.

Tampak lebih singkat supaya pembaca tidak “tersandung-sandung” menyimak buku nonfiksi berbau motivasi.

Menerjemahkan Alinea Panjang dalam Nonfiksi

17 Okt

Sekali-sekali saya gunakan contoh alinea yang panjang, sekaligus pemenggalan kalimatnya supaya pembaca tidak kelelahan.

On the usually flawed
assumption that they know what the speaker is going to say, instead
of listening their focus shifts entirely to trying to formulate ‘smart’
questions. In addition to the sheer rudeness of their constant interruptions,
such people usually only succeed in looking foolish. It all
comes back to note-taking. Rather than constantly interrupting a
speaker with self-serving questions, it is a whole lot smarter (and
better table manners) to note down comments and questions and
save them for later – if indeed the issues haven’t been covered by the
time everyone gets to ask questions.

Terjemahannya sebagai berikut:

Biasanya mereka sering merasa tahu pembicara akan mengatakan apa. Bukannya menyimak, mereka malah mengalihkan fokus untuk merumuskan pertanyaan “cerdas”. Selain kekasaran tersamar dalam interupsi yang terus-menerus, rata-rata orang seperti ini jadi terlihat pandir. Kembali lagi pada pencatatan. Daripada terus menyela pembicara dengan pertanyaan yang tidak patut, jauh lebih cerdas (dan lebih sopan) bila kita mencatat komentar dan pertanyaan, kemudian mengajukannya nanti. Itu pun jika belum dibahas ketika sesi tanya-jawab dimulai.

enough trouble without that

14 Okt

A: I had enough trouble without that.

T: Tanpa dia pun aku sudah menghadapi masalah besar.

E: Tanpa dia pun, masalahku sudah cukup besar.

it was that there are some

17 Okt

A: If he had learned anything in his life, it was that there are some who thrive on loneliness and take strength from it.

T: Jika ia belajar sesuatu dari hidupnya, hal itu adalah, ada beberapa orang yang tumbuh dalam kesendirian dan mengambil kekuatan darinya.

E: Yang dia pelajari dari hidupnya, ada orang tertentu yang tumbuh dalam kesendirian dan menjadi kuat karenanya. 

I should have killed you

17 Okt

A: “I should have killed you when I saw the midwife open your hand.”

T: “Aku seharusnya membunuhmu saat aku melihat dukun beranak itu membuka tanganmu.”

E: ”Seharusnya kau kubunuh waktu kulihat dukun beranak itu membuka tanganmu.”

buried myself under my covers

14 Okt

A: I buried myself under my covers to die. 

T: Aku mengubur diriku di bawah selimutku untuk mati.

E: Kubenamkan diri di bawah selimut menanti maut.

Catatan: Kadang, diksi perlu lebih dipertajam untuk memperkuat suasana emosional dalam cerita.