Arsip | Tenses RSS feed for this section

Past perfect tense dalam kilas balik

9 Jul

Dalam karya fiksi, salah satu alat narasi yang digunakan penulis adalah kilas balik atau flashback, yaitu ketika cerita beralih ke masa lalu sejenak, sebelum kembali lagi ke masa kini. Dalam bahasa Indonesia, hal ini cukup mudah dilakukan, yaitu dengan memberi markah waktu.

Ia memandangi istrinya naik ke pesawat. Mereka bertemu sepuluh tahun lalu di pesta pernikahan teman. Saat itu mereka berdansa, mengobrol sepanjang malam, dan berpisah dengan enggan. Sekarang pun ia masih enggan jika harus berpisah dari istrinya lebih dari sehari.

Dalam bahasa Inggris, peralihan waktu ini dapat ditandai dengan perubahan tense, yaitu menggunakan past perfect tense untuk adegan kilas balik, lalu menggunakan past tense lagi saat kembali ke masa “kini”.

He watched as his wife boarded the airplane. They had met ten years ago at a friend’s wedding. They had danced, they had talked all night, and they had parted with reluctance. He still felt reluctant to be apart from her for more than a day.

Bayangkan betapa repotnya jika kilas balik ini panjangnya beberapa paragraf. Tentunya tidak enak dibaca kalau semua memakai past perfect tense. Maka, untuk kilas balik yang panjang, biasanya penulis menggunakan past perfect hanya 1-2 kalimat saat baru masuk ke adegan kilas balik, kemudian menggunakan past tense, lalu menggunakan past perfect lagi 1-2 kalimat saat hendak kembali ke masa kini.

Nah, sebagai penerjemah, kita harus waspada saat menemukan kalimat past perfect dalam menerjemahkan novel, dan harus menelaah fungsinya. Jika fungsinya untuk menandakan adegan kilas balik, kita sebaiknya tidak menerjemahkan past perfect tense ini dengan kata telah, seperti misalnya:

Ia memandangi istrinya naik ke pesawat. Mereka telah bertemu sepuluh tahun lalu di pesta pernikahan teman. Mereka telah berdansa, telah mengobrol sepanjang malam, dan telah berpisah dengan enggan. Ia masih enggan jika harus berpisah dari istrinya lebih dari sehari.

(Saya pernah menemukan hal seperti itu dalam novel terjemahan.) Kita bisa menerjemahkan kalimat past perfect itu secara biasa saja, tanpa kata telah. Kalau perlu, tambahkan markah waktu untuk menegaskan kapan suatu adegan terjadi (bandingkan lagi kedua paragraf pertama; anggap paragraf Inggris adalah teks sumber dan paragraf Indonesia adalah terjemahannya).

Iklan

was

7 Mar

Di komentar ini, Mbak Esti meminta pembahasan soal petikan percakapan berikut ini:

A: “She is a good mother.”
B: “Was. You mean she was a good mother.”
A: “She’s gone?”
B: “Yes, breast cancer took her.”

Untuk menerjemahkan ini, kita lihat dulu konteksnya. Mengapa B mengoreksi ucapan A, dari is menjadi was? Dalam contoh ini, B ingin memberi tahu A bahwa orang yang dibicarakan sudah meninggal, dan kurasa ini inti pesan yang harus disampaikan dalam terjemahan. Terjemahannya bisa misalnya:

A: “Dia ibu yang baik.”
B: “Sayang, dia sudah tiada.”
A: “Dia sudah meninggal?”
B: “Benar, gara-gara kanker payudara.”

Mari kita lihat pola seperti ini, dalam konteks yang berbeda.

A: “He is a good cop.”
B: “Was. He was a good cop.”
A: “What do you mean?”
B: “He quit his job and became a writer. He writes crime-thrillers, basing them on his experience as a cop.”
atau
B: “Ever since he got shot in the line of duty, he’s become reckless and trigger-happy.”

Dalam contoh ini, B mengoreksi A untuk memberitahunya bahwa orang yang dibicarakan kini bukan polisi yang baik. Terjemahan kalimat kedua bisa misalnya, “Sekarang sudah tidak lagi” atau “Itu sih dulu.”

I didn’t know

2 Mar

“I didn’t know” adalah kalimat past tense, yang berarti ketidaktahuan si pembicara terjadi di masa lampau. Bagaimana cara mengungkapkan kelampauan ini dalam terjemahan?

Dalam banyak kasus, konteksnya sendiri sudah menunjukkan kelampauan ini, atau ada kata keterangan waktu yang menunjukkan waktu kejadian, misalnya, “I didn’t know she wasn’t at home, so I went to her place to return her books.” Atau, “Yesterday I didn’t know anything about origami, but now, after just one lesson, I can make a paper bird from one sheet of paper.” Untuk kasus seperti ini, terjemahan “saya tidak tahu” sudah cukup.

Namun, dalam beberapa kasus, harus ditekankan bahwa ketidaktahuan si pembicara terjadi di masa lampau, bukan masa kini. Terjemahan “saya tidak tahu” kadang tidak cukup. Dalam kasus seperti itu, saya suka menerjemahkannya sebagai “saya baru tahu”.

Misalnya, seseorang melihat temannya bermain piano di pesta, lalu berkata, “Hey, I didn’t know you played the piano.” Ini bisa diterjemahkan menjadi, “Eh, aku baru tahu kamu bisa main piano.” Kalau diterjemahkan menjadi “Aku tidak tahu kamu bisa main piano”, menurut saya kalimatnya aneh. Jelas-jelas dia melihat temannya bermain piano, kok masih tidak tahu juga? 🙂

Contoh lain, seorang ibu ditanyai polisi tentang anaknya yang hilang berkata, “I didn’t know he was gone until this morning when I went to his room to wake him up.” Ini bisa diterjemahkan menjadi, “Saya baru tahu tadi pagi bahwa dia hilang, sewaktu saya ke kamarnya untuk membangunkannya.”

I wish (1)

12 Agu

Dalam pekerjaan menerjemahkan, saya sering menemukan ungkapan I wish yang diikuti anak kalimat past tense. Ini berarti bahwa hal yang diungkapkan dalam anak kalimat tersebut adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Biasanya saya menerjemahkannya menjadi salah satu dari tiga alternatif berikut, tergantung konteksnya.

* I wish I could remember what my grandfather looked like, but I was still very young when he passed away.
* Aku ingin sekali bisa ingat wajah kakekku, tetapi aku masih kecil sewaktu dia meninggal.

* It’s raining cats and dogs, and I wish I brought my umbrella.
* Hujan turun lebat sekali, dan aku menyesal tadi tidak membawa payung.

* I wish he were here.
* Andai saja dia ada di sini.

Ada juga yang menerjemahkan frasa ini menjadi aku berharap. Tetapi, menurut saya ini kurang pas karena kata harap menyiratkan bahwa si pembicara merasa hal yang diharapkannya masih bisa tercapai, dan makna kalimatnya menjadi berbeda.  Mari kita rasakan makna kalimat-kalimat ini:

* Aku berharap aku bisa mengingat wajah kakekku.
* Aku berharap aku membawa payung.
* Aku berharap dia ada di sini.

Jika diterjemahkan balik, menjadi:

* I hope I can remember what my grandfather looked like (after seeing his photos again).
* I hope I will bring my umbrella (I will not forget to bring it).
* I hope he is here (he hasn’t gone somewhere else).