Tag Archives: konversi

Konversi dan kewajaran

4 Jun

Dalam artikel sebelumnya, kita membicarakan konversi satuan dalam penerjemahan. Sekarang, mari kita bahas cara menuliskan satuan yang telah dikonversi tersebut dalam terjemahan.

Misalkan saja, kita bertemu dengan ukuran 6 feet dalam naskah. Kalau dikonversikan, ukuran ini menjadi 1,8288 m atau 182,88 cm. Namun, kita tidak bisa langsung memasukkan angka ini ke dalam terjemahan, tetapi harus mempertimbangkan kewajaran dalam bahasa Indonesia dalam konteks terkait.

  • Dalam hal tinggi badan sendiri, kita bisa mencantumkan 183 cm. Kita di Indonesia terbiasa menyebutkan tinggi badan sampai dengan satuan sentimeter. Misalnya, saya tahu tinggi badan saya 162 cm dan suami saya 168 cm.
  • Tetapi, seandainya konteksnya adalah saksi kejahatan yang hanya memperkirakan tinggi si penjahat kepada polisi, tentunya dia tidak mungkin bisa memperkirakan sampai satuan sentimeter hanya dari melihat sekilas. Dalam konteks ini, lebih tepat kita mencantumkan 180 cm.
  • Jika yang dibahas adalah lebar ruangan di sebuah rumah atau kamar sel di penjara, kita bisa menggunakan 1,8 m.
  • Barangkali tokoh dalam cerita sedang berada di pinggir sungai dan melihat buaya di air. Saat bercerita kepada temannya, dia bisa menyebutkan bahwa hewan itu panjangnya hampir dua meter.
  • Tetapi, kalau ada ilmuwan yang menangkap buaya dan mengukurnya untuk keperluan penelitian, kita bisa memakai ukuran 183 cm.

Jadi, sekali lagi, lihat konteksnya, cari cara mengungkapkannya yang wajar dalam bahasa Indonesia, lalu sesuaikan hasil konversi dengan itu.

Logika dan konversi

25 Mar

Saya pernah membaca terjemahan novel sebagai berikut:

  • I was 105 pounds when we conceived him, and my baby tipped the scale of 9.6 pounds.
  • Beratku 105 kilogram saat aku mengandungnya dan berat bayiku 9,6 kilogram.

Penerjemah ini rupanya belum mengerti tentang konversi, sehingga ia langsung mengubah pounds menjadi kilogram tanpa menyesuaikan angkanya. Seandainya belum tahu tentang konversi, pada waktu membaca ulang terjemahannya, penerjemah seyogianya menggunakan logikanya:

  • Mungkinkah seorang wanita yang mengandung beratnya bisa sampai 105 kilogram? Mungkin bisa, tapi…. wow.
  • Mungkinkah bayi yang baru dilahirkan beratnya bisa sampai 9,6 kilogram?

Dengan sedikit riset di Google, akan diketahui bahwa:

  • Bayi yang baru lahir itu beratnya sekitar 3,4 kg.(7 ½ lbs), dan berkisar 2,7–4,6 kg (5,5–10 pound)
  • Memang ada bayi-bayi raksasa yang beratnya mencapai 9-10 kilogram, tetapi itu sangat jarang. Dalam novel ini, bayi tersebut normal, meskipun lumayan besar untuk ukuran bayi.
Dari Google:
  • 1 pound = 0,45 kilogram; jadi 105 pounds = kira-kira 47,5;
  • 9,6  pound = kira-kira 4,3 kilogram.
Terjemahan yang diusulkan:
  • Beratku 47,5 kilogram saat aku mulai mengandungnya, dan saat ditimbang berat bayiku 4,3 kilogram.
Contoh lain:
  • He was a towering specimen, fully six feet tall and barrel-chested.
  • Pria itu sosok yang menjulang tinggi, setinggi enam meter dan berdada kekar.
Pertanyaan: Adakah seorang pria yang tingginya enam meter?

Menurut Google: 1 foot = 30,48 cm. —> 6 feet = 6 x 30,48 cm = 182.88 cm;
Atau kalau dalam novel, angkanya tidak perlu tepat, sehingga 6 feet = kira-kira 180 sentimeter, atau lebih dari 180 sentimeter.

Terjemahan yang diusulkan:

  • Pria itu jangkung, lebih dari 180 sentimeter tingginya, dan berdada kekar.
Cara untuk melakukan konversi mudah sekali. Kita tinggal mengetikkan bilangan dengan satuannya di google, diikuti = (sama dengan), dan pilihan konversi akan muncul sendiri.
Misalnya:
  • 105 pounds =
  • 6 feet =

Konversi

9 Agu

Saat menerjemahkan, mau tidak mau aku akan bertemu dengan istilah ukuran yang perlu diubah sesuai dengan kebiasaan Indonesia. Dalam ukuran Amerika kita biasa bertemu dengan mile, feet, inch, pound dan sebagainya. Dalam ukuran Inggris kita bisa bertemu dengan yang lebih tidak familier seperti stone, yard, cup dan lain-lain.

Sebagian besar ponsel sudah memiliki program konversi, tapi jika tidak, ada online conversion cukup lengkap pada situs ini:

http://www.onlineconversion.com/

Sekarang, bagaimana menentukan mana yang perlu diubah dan mana yang tidak? Dan sejauh apa?

Untuk buku anak-anak dan beberapa narasi yang memerlukan bayangan pembaca tentang jarak, berat, dan sebagainya, aku biasa mengonversinya ke istilah yang lebih Indonesia. Misalnya, mile menjadi kilometer, feet menjadi meter, pound menjadi kilogram, dan lain-lain. Begitu pula dengan ukuran suhu, yang biasanya memakai Fahrenheit, perlu diubah menjadi Celcius agar pembaca bisa membayangkan seperti apa suhu yang sedang dibicarakan. Tidak mungkin aku membiarkan dialog ini tanpa dikonversi:

“It’s a hundred degrees out there!”

Bisa-bisa pembaca menyangka cuaca di luar sama dengan titik didih air dalam Celcius (yang pastinya tidak mungkin bisa ditinggali manusia).

Mengubah ukurannya sendiri sangat mudah, tinggal meng-klik mouse, dan terpampanglah ukuran yang kita inginkan. Tapi sejauh apa aku mengonversinya? Aku pernah membaca buku terjemahan dengan kalimat kira-kira sebagai berikut:

“Jarak ke sana sejauh 32,187 kilometer.”

Huh?

Pernahkah kita menjawab pertanyaan, “Butuh berapa meter tali?” dengan “Satu koma delapan tiga meter”? Bisa-bisa kita disuruh mengukurnya sendiri dengan penggaris atau meteran.

20 mil akan kukonversi menjadi 30 kilometer. 32 kilometer pun rasanya tidak lazim diucapkan seseorang yang mengira-ngira jarak (kecuali terdapat papan tanda yang menunjukkan sebuah lokasi persis 32 kilometer ke depan).  Tidak lupa kutambahkan dengan kata “kira-kira”, kecuali kalau disebutkan persis 20 mil, bisalah kuganti menjadi 32 kilometer.

6 kaki akan kuganti menjadi 2 meter, kecuali jika memang ada penjelasan bahwa sesuatu sedang diukur dan hasilnya persis 6 kaki, maka 1,8 meter bisa digunakan. Begitu pula dengan ukuran suhu. Tapi untuk tinggi badan, tentunya lebih baik diubah dengan tepat. Tidak aneh jika kita mengucapkan, “Dia jangkung, tingginya 179 senti!”

Tapi pengecualian dalam kasus ukuran mile, ada beberapa yang sebenarnya tidak terlalu perlu dikonversi. Cukup menggunakan mil, maka pembaca sudah bisa membayangkan. Ini jika ukuran mil tidak terlalu berpengaruh pada cerita dan pada bayangan pembaca tentang situasi yang dinarasikan. “Jaraknya seratus mil!” pastinya sudah terbayang betapa jauhnya tanpa perlu mengubahnya menjadi “Jaraknya seratus enam puluh kilometer!”

Pembaca tidak akan mau dipusingkan dengan ukuran sampai desimal terkecil. Membayangkannya pun bakal sulit. Maka aku selalu membulatkan angka ke bawah atau ke atas, tergantung sampai sejauh apa desimal yang tertera. Apalagi untuk dialog, ukuran yang dibulatkan akan tampak lebih luwes daripada membaca seorang tokoh mengucapkan “32,187 kilometer”. Aku tidak menerjemahkan buku fisika atau matematika, bukan?