Tag Archives: satuan

Konversi dan kewajaran

4 Jun

Dalam artikel sebelumnya, kita membicarakan konversi satuan dalam penerjemahan. Sekarang, mari kita bahas cara menuliskan satuan yang telah dikonversi tersebut dalam terjemahan.

Misalkan saja, kita bertemu dengan ukuran 6 feet dalam naskah. Kalau dikonversikan, ukuran ini menjadi 1,8288 m atau 182,88 cm. Namun, kita tidak bisa langsung memasukkan angka ini ke dalam terjemahan, tetapi harus mempertimbangkan kewajaran dalam bahasa Indonesia dalam konteks terkait.

  • Dalam hal tinggi badan sendiri, kita bisa mencantumkan 183 cm. Kita di Indonesia terbiasa menyebutkan tinggi badan sampai dengan satuan sentimeter. Misalnya, saya tahu tinggi badan saya 162 cm dan suami saya 168 cm.
  • Tetapi, seandainya konteksnya adalah saksi kejahatan yang hanya memperkirakan tinggi si penjahat kepada polisi, tentunya dia tidak mungkin bisa memperkirakan sampai satuan sentimeter hanya dari melihat sekilas. Dalam konteks ini, lebih tepat kita mencantumkan 180 cm.
  • Jika yang dibahas adalah lebar ruangan di sebuah rumah atau kamar sel di penjara, kita bisa menggunakan 1,8 m.
  • Barangkali tokoh dalam cerita sedang berada di pinggir sungai dan melihat buaya di air. Saat bercerita kepada temannya, dia bisa menyebutkan bahwa hewan itu panjangnya hampir dua meter.
  • Tetapi, kalau ada ilmuwan yang menangkap buaya dan mengukurnya untuk keperluan penelitian, kita bisa memakai ukuran 183 cm.

Jadi, sekali lagi, lihat konteksnya, cari cara mengungkapkannya yang wajar dalam bahasa Indonesia, lalu sesuaikan hasil konversi dengan itu.

Redundant

9 Agu

Dulu, sewaktu pertama kali diuji untuk menjadi penerjemah, aku tidak punya referensi apa pun selain buku-buku terjemahan yang kubaca. Aku berusaha mengingat kalimat-kalimat seperti apa yang kulihat dalam buku-buku terjemahan, agar hasil ujianku setidaknya sesuai dengan pakem penerbit. Satu hal yang ternyata digaris merah oleh editorku waktu itu: redundant.

Dengan kaku dan baku, aku masih menerjemahkan ‘a’ dan ‘the’ dalam bahasa Inggris pada setiap kalimat. Dulu aku menerjemahkan seperti ini:

I saw a little girl took a ball from a table.

Aku melihat seorang anak perempuan kecil mengambil sebuah bola dari atas sebuah meja.

He dropped it to the ground.

Dia menjatuhkannya ke atas tanah.

He’s a father of five children.

Dia seorang ayah dari lima orang anak.

Sekarang, aku menerjemahkannya (atau mengedit) kalimat-kalimat di atas dengan:

Aku melihat gadis kecil mengambil bola dari sebuah meja.
Dia menjatuhkannya ke tanah.
Dia ayah lima anak.

Seorang, sesosok, seekor, sebuah, dan lain sebagainya bisa dihilangkan jika tidak menentukan jumlah. ‘Tangan kirinya memegang apel, sementara tangan kanan menggenggam pisau’ akan lebih enak dibaca daripada ‘Tangan kirinya memegang sebuah apel, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pisau.’ Pembaca sudah tahu hanya ada satu apel dan satu pisau tanpa perlu diperjelas dengan ‘sebuah’ dan ‘sebilah’. Tentu saja, ini tergantung kalimatnya.

Pengulangan tidak perlu juga ada pada kata-kata seperti ini:
– alis mata
– menuju ke
– sebuah buah
– turun ke bawah
– naik ke atas
dan lain sebagainya.

Alis sudah pasti berpasangan dengan mata, bukan kaki. ‘Menuju’ dan ‘ke’ berarti sama, pilihlah salah satu. Kalimat ‘menuju ke atas’ bisa diubah menjadi ‘mengarah ke atas’. Jika tidak memerlukan penjelasan bahwa sesuatu adalah ‘buah’ maka ‘buah’ bisa dibuang. Sebuah apel, misalnya. Ada beberapa ‘buah’ dalam bahasa Indonesia yang perlu penjelasan, misalnya ‘buah ara’. Singkirkan kata ‘sebuah’ dari depannya. ‘Turun’ dan ‘naik’ sudah jelas arahnya, tidak perlu diperjelas lagi dengan ‘ke bawah’ dan ‘ke atas’.

Kata sambung yang berlebihan juga perlu disingkirkan. Aku pernah menemukan kalimat ‘dia adalah merupakan ibunya’. Betapa lebih enak jika ditulis ‘dia ibunya’ saja. Kata ‘adalah’, ‘oleh’, ‘dari’, ‘merupakan’ dan lain sebagainya bisa disingkirkan jika kalimat masih bisa dimengerti tanpa memerlukan kata sambung, seperti ‘dia dikepung lima pemuda kekar’. Tanpa kata sambung ‘oleh’ di tengah-tengahnya, kalimat itu valid.

Apakah aku sudah terbebas dari redundant jika menerjemahkan? Belum sepenuhnya. Itulah gunanya editor yang bisa melihat kesalahan ketika pertama kali membaca, yang mungkin terlewat oleh penerjemah 🙂

Konversi

9 Agu

Saat menerjemahkan, mau tidak mau aku akan bertemu dengan istilah ukuran yang perlu diubah sesuai dengan kebiasaan Indonesia. Dalam ukuran Amerika kita biasa bertemu dengan mile, feet, inch, pound dan sebagainya. Dalam ukuran Inggris kita bisa bertemu dengan yang lebih tidak familier seperti stone, yard, cup dan lain-lain.

Sebagian besar ponsel sudah memiliki program konversi, tapi jika tidak, ada online conversion cukup lengkap pada situs ini:

http://www.onlineconversion.com/

Sekarang, bagaimana menentukan mana yang perlu diubah dan mana yang tidak? Dan sejauh apa?

Untuk buku anak-anak dan beberapa narasi yang memerlukan bayangan pembaca tentang jarak, berat, dan sebagainya, aku biasa mengonversinya ke istilah yang lebih Indonesia. Misalnya, mile menjadi kilometer, feet menjadi meter, pound menjadi kilogram, dan lain-lain. Begitu pula dengan ukuran suhu, yang biasanya memakai Fahrenheit, perlu diubah menjadi Celcius agar pembaca bisa membayangkan seperti apa suhu yang sedang dibicarakan. Tidak mungkin aku membiarkan dialog ini tanpa dikonversi:

“It’s a hundred degrees out there!”

Bisa-bisa pembaca menyangka cuaca di luar sama dengan titik didih air dalam Celcius (yang pastinya tidak mungkin bisa ditinggali manusia).

Mengubah ukurannya sendiri sangat mudah, tinggal meng-klik mouse, dan terpampanglah ukuran yang kita inginkan. Tapi sejauh apa aku mengonversinya? Aku pernah membaca buku terjemahan dengan kalimat kira-kira sebagai berikut:

“Jarak ke sana sejauh 32,187 kilometer.”

Huh?

Pernahkah kita menjawab pertanyaan, “Butuh berapa meter tali?” dengan “Satu koma delapan tiga meter”? Bisa-bisa kita disuruh mengukurnya sendiri dengan penggaris atau meteran.

20 mil akan kukonversi menjadi 30 kilometer. 32 kilometer pun rasanya tidak lazim diucapkan seseorang yang mengira-ngira jarak (kecuali terdapat papan tanda yang menunjukkan sebuah lokasi persis 32 kilometer ke depan).  Tidak lupa kutambahkan dengan kata “kira-kira”, kecuali kalau disebutkan persis 20 mil, bisalah kuganti menjadi 32 kilometer.

6 kaki akan kuganti menjadi 2 meter, kecuali jika memang ada penjelasan bahwa sesuatu sedang diukur dan hasilnya persis 6 kaki, maka 1,8 meter bisa digunakan. Begitu pula dengan ukuran suhu. Tapi untuk tinggi badan, tentunya lebih baik diubah dengan tepat. Tidak aneh jika kita mengucapkan, “Dia jangkung, tingginya 179 senti!”

Tapi pengecualian dalam kasus ukuran mile, ada beberapa yang sebenarnya tidak terlalu perlu dikonversi. Cukup menggunakan mil, maka pembaca sudah bisa membayangkan. Ini jika ukuran mil tidak terlalu berpengaruh pada cerita dan pada bayangan pembaca tentang situasi yang dinarasikan. “Jaraknya seratus mil!” pastinya sudah terbayang betapa jauhnya tanpa perlu mengubahnya menjadi “Jaraknya seratus enam puluh kilometer!”

Pembaca tidak akan mau dipusingkan dengan ukuran sampai desimal terkecil. Membayangkannya pun bakal sulit. Maka aku selalu membulatkan angka ke bawah atau ke atas, tergantung sampai sejauh apa desimal yang tertera. Apalagi untuk dialog, ukuran yang dibulatkan akan tampak lebih luwes daripada membaca seorang tokoh mengucapkan “32,187 kilometer”. Aku tidak menerjemahkan buku fisika atau matematika, bukan?