Berapakah Honor Penerjemah Buku?

17 Nov

Jawabannya sederhana: relatif. Tiap penerbit memberlakukan standar berlainan. Ada juga yang memberi keleluasaan negosiasi, biasanya ini diperuntukkan penerjemah yang dianggap jaminan mutu atau sudah kampiun di bidangnya. Meski relatif tidak banyak, masih ada penerbit yang menetapkan honor per halaman. Umumnya, margin dan layout halaman tersebut pun ditentukan dalam Surat Perjanjian Kerja (SPK) bersama pasal-pasal lain yang memuat tenggat dan sebagainya. Contohnya, Rp 12.000,00 per sekian karakter atau per halaman A 4 yang terdiri dari sekian baris. Sependek pengetahuan saya, tarif ini bermula dari angka Rp 10.000,00. Bagaimana dengan honor per karakter? Ada penerbit yang terang-terangan menyatakan bahwa standar kompensasi mereka adalah 8,5-17 rupiah per karakter tanpa spasi. Ada yang mulai dari 7-8 rupiah, kemudian berangsur-angsur naik sesuai perkembangan kompetensi penerjemah yang terasah seiring dengan waktu. Di samping itu, deadline dan tingkat kesulitan (termasuk bahasa asing non Inggris) turut berpengaruh pada negosiasi honor. Yang sudah santer tersiar adalah kabar tentang penerbitan di kawasan tertentu. Mereka menetapkan standar yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa kota lain, termasuk yang berdekatan, sehingga dengan sendirinya pihak penerbitan di sana berpikir-pikir untuk menggunakan jasa penerjemah di kota lain. Namun ternyata tidak semuanya demikian. Meski tidak banyak, ada penerbitan tertentu (dengan genre buku yang spesifik pula) menerapkan tarif relatif lebih tinggi untuk penerjemah baru ketimbang penerbit besar yang memberlakukan sistem ‘percobaan’ yang akan meningkat seiring perkembangan kompetensi penerjemah bersangkutan. Semoga tulisan singkat ini membantu. Mohon tidak membandingkan dengan ketetapan standar Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), sebab bila itu diterapkan, bisa dibayangkan alangkah mahal harga buku di pasaran nantinya.

SPK itu apa?

Kepanjangan SPK ini berlainan. Ada penerbit yang menyebutnya Surat Perintah Kerja, di tempat lain Surat Perjanjian Kerja. Ada juga yang menggunakan istilah Surat Perjanjian Penerjemahan.

Tidak semua penerbit memberikan dokumen kesepakatan tertulis seperti ini, yang sebenarnya bisa dipandang dari kacamata positif. Pertama, mereka percaya penuh kepada freelancer-nya yang bahkan belum pernah bertemu muka sekalipun, seperti pengalaman saya dengan sebuah penerbit besar yang hanya berkomunikasi lewat email. Itu pun pendek-pendek saja. Kedua, memudahkan secara prosedural, sebab menunggu surat dikirim ke rumah, membaca pasal demi pasal, menandatangani di atas materai dan mengirimkan kembali bagaimanapun membutuhkan waktu.

Ada SPK yang ringkas, hanya satu halaman, ada yang detail. Contoh SPK yang ringkas, tercantum poin-poin berikut:

  1. Nomor surat
  2. Tanggal
  3. Order dari: *nama penerbit*
  4. Penanggung jawab
  5. Nama freelancer
  6. Judul buku
  7. Jenis order (penerjemahan, penyuntingan, layout, atau proofread )
  8. Judul buku
  9. Biaya
  10. Ketentuan (spasi, jenis huruf, margin)
  11. Ada juga yang mencantumkan kualitas penyelesaian: well edited
  12. Deadline
  13. Cara pembayaran dan nomor rekening
  14. Tanda tangan

Berikut contoh isi SPK yang rinci/panjang, menyerupai kontrak resmi yang mungkin familier bila Anda pernah menulis buku. Beberapa pasalnya antara lain:

Tugas dan tanggung jawab

Di sini tercantum, di antaranya, bahwa hasil terjemahan sudah diketik dan diedit rapi.

Honor dan cara pembayaran

Menyangkut nilai kompensasi, pajak, dan waktu pembayaran

Jangka waktu penyerahan

Deadline dan denda (kalau ada)

Salah satu pasal menyebutkan, meski kebanyakan penerjemah sudah tahu, bahwa penerjemah tidak memegang hak cipta hasil terjemahan buku tersebut dan tidak memperoleh royalti karenanya. Ada pula penerbit yang menegaskan dalam pasal SPK-nya bahwa hasil terjemahan tidak boleh diserahkan kepada pihak lain dan tidak boleh disubkontrakkan.

Suatu waktu, saya pernah memperoleh SPK yang mengandung pasal ini:

Jika setelah melalui proses perbaikan, naskah tersebut belum memenuhi taraf mutu yang diharapkan, maka Pemilik Naskah berhak untuk tidak memakai hasil terjemahan tersebut dan Penerjemah tidak berhak menerima pembayaran yang telah disepakati.

Kebijakan mengenai penyerahan SPK ini berbeda-beda. Ada yang sedari awal memberikan dalam bentuk softcopy, ada yang hardcopy dulu dan harus dikembalikan melalui pos/kurir pula, namun ada juga yang mengirimkan hardcopy namun saya boleh mengembalikan yang bertanda tangan via email. Dengan begitu, bila SPK-nya rinci sekali, saya tinggal menandatangani halaman terakhir dan mengirimkan hasil scan-nya.

Bentuknya kira-kira seperti itu.

Perlu diketahui beberapa poin seputar prosedur pembayaran honor:

  1. Tidak semua penerbit menggunakan SPK. Namun ada yang memberikan SPK dan BAP, harus kita tandatangani biasanya di pertengahan proyek. Sedapat mungkin usahakan agar BAP diperoleh/dikirimkan kembali menjelang pekerjaan rampung supaya pembayaran tidak terlalu lama. Ada penerbit yang menetapkan transfer pada hari tertentu sekitar dua minggu setelah BAP diterima, asumsi saya oleh bagian keuangan.
  2. Beberapa penerbit menjadwalkan pembayaran tiap hari tertentu, sekali seminggu. Misalnya tiap Selasa, artinya paling lambat pekerjaan disetorkan Senin pagi dengan asumsi editor tidak sedang cuti dan langsung mengecek e-mail. Karena kemungkinan tersebut, di samping biasanya Senin adalah jadwal rapat rutin redaksi, alangkah baiknya disetorkan Jumat sore/siang supaya Selasa dapat cair.
  3. Rata-rata penerbit memberlakukan pembayaran dua minggu setelah pekerjaan diterima. Katakanlah jadwal mingguannya Selasa, kita serahkan tepat hari Selasa sore, maka cairnya dua kali Selasa lagi.
  4. Ada juga penerbit yang membayar pada hari yang sama atau selang dua-tiga hari saja.
  5. Penerbit lain mensyaratkan invoice, artinya kita menghitung sendiri jumlah karakter/halaman hasil terjemahan kemudian dicocokkan oleh pihak penerbit sebelum pembayaran.

Catatan penting: selalu konfirmasikan penerimaan SPK yang sudah ditandatangani kepada editor, agar pembayaran tepat waktu. Bila kita terlambat mengirimkan kembali berkas itu, terlambat pula pengajuannya ke bagian keuangan.

25 Tanggapan to “Berapakah Honor Penerjemah Buku?”

  1. inndhh 17 November 2010 pada 17:34 #

    wow O.O
    ternyata mahal banget yua..
    siapa yang rela bayar semahal itu buat nerjemahin?

    • Femmy Syahrani 19 November 2010 pada 20:55 #

      Tarif penerjemah buku relatif rendah lho, dibandingkan dengan penerjemah nonbuku. :-p Tapi pekerjaan menerjemahkan memang bukan hal mudah, dan layak dihargai dengan tarif tinggi.

  2. Slamat P Sinambela 22 November 2010 pada 22:39 #

    kalau mau jujur, menerjemah buku kelebihannya hanya kita punya portofolio yg bisa dinikmati banyak orang. apalagi kalau bukunya bisa best seller. duitnya sih cekak hahahaha

    • Femmy Syahrani 23 November 2010 pada 00:10 #

      Memang, penerjemah buku memperoleh pengakuan, sementara penerjemah nonbuku harus bekerja di balik layar. Kelebihannya selain itu, bagi sebagian orang, termasuk bagi saya, penerjemahan buku itu lebih menyenangkan daripada nonbuku.

  3. krismariana 23 Februari 2011 pada 10:54 #

    kalau dibandingkan dg menerjemahkan nonbuku, honornya beda jauh ya. tetapi saya rasanya lebih punya passion untuk menerjemahkan buku daripada nonbuku.🙂

    • Femmy Syahrani 23 Februari 2011 pada 11:10 #

      saya sependapat🙂 tapi, saya menerjemahkan buku maupun nonbuku, soalnya keduanya memberi sesuatu yang saya perlukan :-p

  4. esti 24 Februari 2011 pada 14:43 #

    Menerjemahkan nonbuku memang tarifnya lebih memuaskan.
    Tapi secara batiniah, aku lebih suka menerjemahkan buku. Karena aku suka buku…
    Bahkan kalau ceritanya bagus, kadang nggak mikir tarif hehehe…

    • Rini Nurul Badariah 24 Februari 2011 pada 16:01 #

      Mbak Esti jujur nian, hihihi…
      Apalagi kalau deadlinenya tak mendesak, ya Mbak:D

      • yani12 16 Juni 2011 pada 07:29 #

        aku setuju dg pendapat kalian berdua

  5. Ade Indarta 1 Maret 2011 pada 13:48 #

    Sebenarnya ingin sih menerjemahkan buku lagi. Dulu pernah, walaupun jumlahnya tidak sampai 5 Tapi kalau sekarang sepertinya akan jadi sebuah kemewahan. Soalnya kalau lihat uang yang didapat dan dibandingkan dengan biaya hidup di sini, bisa tekor. :p

    Memang harusnya menerjemahkan buku motivasinya hobi atau kesenangan. Masuknya di kolom pengeluaran, bukan pendapatan.😀

    • Rini Nurul Badariah 1 Maret 2011 pada 14:30 #

      Sepertinya penerjemah yang hanya mengerjakan buku di Indonesia pun relatif jarang, Mas Ade:) Kebanyakan merangkap profesi.

      • Linda B 30 September 2011 pada 05:38 #

        bener mba…seperti yours truly hehe…soalnya kalo engga, dapur ga berasap (utk aku lho ya)

  6. Lydzz_Js 15 Maret 2011 pada 18:58 #

    Thx info nya ya mba.. ak jg bercita-cita pengen jadi penerjemah.. info ini sgt berguna utk saya..🙂

  7. Natalina 17 Juni 2013 pada 11:04 #

    Menerjemahkan sebuah buku atau artikel itu menurut saya adl sebuah seni. Karna memerlukan rasa dan keindahan tatanan kata sehingga setelah diterjemahan pembaca tdk hanya mengerti artinya tp jg hrs terbawa dg situasi dlm terjemahan tsb. Jd seni itu mmg tak sama dg angka yg pasti layaknya ilmu finance tp seni itu srg diiringi kt tinggi, selera seni yg tinggi, jd ya sdh pasti ‘dihargai tinggi’😉

    • Dylan 7 Juni 2016 pada 03:31 #

      Kalau seni atau persoalan estetik itu relatif dan sangat tergantung pada konten dan konteks yang ada di dalam teks.

  8. wahab 8 Maret 2015 pada 09:08 #

    salam kenal mbak Femmy. mau nanya lg ni, mbak femmy tau gak alamat email penerbit Gramedia. thanks

  9. Cobalt Blue 22 April 2016 pada 13:29 #

    Susah menetapkan tarif yang layak ya. Dulu saya sempet mampir blognya Mbak Dina Begum dan beberapa senior lain untuk mengetahui medan, dan di situ disebutkan kalau terjemahan buku kira-kira 7.500 – 20.000. Baru belakangan saya sadar kalau itu kiriman lama dan harga sudah naik (minimal 10 ribu). Artinya dua proyek pertama sama dibayar di bawah standar.

    Sempet agak “gelo”, tapi ya nggak papalah, kan proyek pemula. Tapi barusan ditawari kerjaan lagi, masih dengan tarif lama.

    Sebetulnya bagaimana ya sebaiknya antara menyeimbangkan kemampuan dengan tarif? Kalau menurut pengalaman para senior, bagaimana sepak terjangnya ketika baru memulai?

    Kadang saya agak sedih ketika ada pemula yang bertanya tentang tarif (yang biasanya memang belum tahu harga) langsung ditandas dengan ketus seolah pemula tersebut sengaja merusak harga.

    • Rini Nurul Badariah 25 April 2016 pada 08:12 #

      Mbak, secepatnya saya jawab melalui e-mail, ya. Terima kasih atas pertanyaan dan kesabarannya:)

Trackbacks/Pingbacks

  1. Sekadar berbagi: bagaimana aku bisa sampai menjadi penerjemah « My Pensieve - 30 September 2011

    […] Berapakah Honor Penerjemah Buku? […]

  2. Sekadar Berbagi Pengalaman (2) | Dina's Pensieve - 29 Mei 2013

    […] Berapakah Honor Penerjemah Buku? […]

  3. Ingin Jadi Penerjemah (Buku)? | Zona Aini - 15 Februari 2014

    […] Honornya bagaimana? Honor tergantung penerbit. Ada penerbit yang menghitungnya per halaman jadi, ada yang per huruf tanpa spasi, ada yang per huruf dengan spasi. Per halaman mungkin sekitar 12-15 ribu per halaman. Kalau per huruf … yang aku tahu baru Gramedia, tapi bisalah dijadikan acuan. Gramedia menetapkan Rp4 – Rp14 per karakter dengan spasi baik untuk naskah fiksi dan non-fiksi, seperti juga disebutkan di tulisan ini. Baca juga Berapakah Honor Penerjemah Buku. […]

  4. Pertanyaan-pertanyaan Perihal Menjadi Penerjemah Buku | Terjemahan Melody - 8 November 2014

    […] > Berapa honor penerjemah buku? Setahu saya 6-16 rupiah per karakter (huruf, biasanya termasuk tanda baca, biasanya terhitung dari teks hasil terjemahan), tergantung kemampuan penerbit, keahlian penerjemah, dan kesulitan buku yang diterjemahkan. Kalau hitungan per halaman, mungkin 15.000 sampai 40.000 rupiah. Benar, jauh lebih kecil daripada honor penerjemah dokumen. Masih mau menjadi penerjemah buku? Silakan baca Berapakah Honor Penerjemah Buku […]

  5. Tanya Jawab Perihal Menjadi Penerjemah Buku | Terjemahan Melody - 8 November 2014

    […] > Berapa honor penerjemah buku? Setahu saya 6-16 rupiah per karakter (huruf, biasanya termasuk tanda baca, biasanya terhitung dari teks hasil terjemahan), tergantung kemampuan penerbit, keahlian penerjemah, dan kesulitan buku yang diterjemahkan. Kalau hitungan per halaman, mungkin 15.000 sampai 40.000 rupiah. Benar, jauh lebih kecil daripada honor penerjemah dokumen. Masih mau menjadi penerjemah buku? Silakan baca Berapakah Honor Penerjemah Buku […]

  6. Ingin Menjadi Penerjemah Buku? – eha translator - 18 Mei 2016

    […] Honornya bagaimana? Honor tergantung penerbit. Ada penerbit yang menghitungnya per halaman jadi, ada yang per huruf tanpa spasi, ada yang per huruf dengan spasi. Per halaman mungkin sekitar 12-15 ribu per halaman. Kalau per huruf … yang aku tahu baru Gramedia, tapi bisalah dijadikan acuan. Gramedia menetapkan Rp4 – Rp14 per karakter dengan spasi baik untuk naskah fiksi dan non-fiksi, seperti juga disebutkan di tulisan ini. Baca juga Berapakah Honor Penerjemah Buku. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: